Sungguh (kasihan)

Matanya kian sayu langit
Kala terusik ia lari menjerit
Kala melumpuh seakan hilang tersabit
Kala mendenging seakan luka terhimpit

Kasihan sungguh kasihan angin
Bermimpi mengharum melati tak mungkin
Menjelma mawar putih tak yakin
Jadi anggrek pun ia tak ingin

Lalu bagaimana kau itu?
Bahkan mentari memandangnya redup
Dedaunan jua diam mengatup
Tak tinggal satupun tegur meletup

(Semarang, 12 September 2013)

Iklan

Semesta tolong…

Bintang…
Katakan padaku hal-hal membayang
Tentang semu merah sebelum petang
Atau debur sinarmu memanjang

Bulan…
Sungguh Tuhan tahu tanpa ku katakan
Rasa hidup yang terintihkan
Terbekas di relung tak tertahan

Mentari…
Jiwaku hilang jatuh tercuri
Biarkan jiwa kecilmu berlari
Sebelum mati sobek tersayat duri

(Semarang, 07 September 2013)

Mengapa?

Malam jadi waktu terindah
Apalagi saat bintang berpindah
Bulan bersinar pun tak sudah
Namun hanya langit yang menggundah

Kenapa langit saja katanya?
Menjulang luas mencakrawala
Kenapa langit lagi katanya?
Tanpanya bulan dan bintang tak bersua

Langit biarkan kami menyatu
Melayang tinggi arungi waktu
Menggapai bintang meskipun satu
Maumu bulan si onggok batu

(Semarang, 12 September 2013)

Pudar

Kau disana, berdiri tegak sedari mentari masih tegak bergelayut hingga ia hampir jatuh tertidur. Separuh tubuhmu basah terapung dan tersapu ombak yang berkejaran ke tepi. Lelah menunggu, ku langkahkan kaki mendekati sosokmu yang tersorot mata surya.
“Tidakkah kau lelah berdiri disana? Aku letih menantimu beranjak.”
Ia tersenyum mendengar keluh kecilku, “kemarilah sayang.”
Tanpa lama berpikir, kulangkahkan kaki lebih jauh hingga air tepi samudera mulai membasuh setengah tubuhku basah.
“Lihatlah kesana!” Mataku berputar mengikuti jarinya menunjuk seekor camar yang terbang setengah tinggi. “Aku ingin bebas seperti ia yang diperkenankan terbang kemana ia mau.”
Dahi kecilku mulai mengerut, “lalu, kau akan meninggalkanku di pondok kecil kita?”
Ia terdiam sejenak, “aku kira kau takkan merasa sepi. Sebentar lagi peradaban ramai akan menjangkau pantai kecil kita. Saat itulah orang-orang baru datang untuk menemanimu tinggal disana.”
Mata ini mulai tergenang, “tidakkah kau ingin tinggal dan merasakan banyak bahagia di tiap menit kebersamaan kita? Aku lelah merasa kosong, mereka yang berstatus orang tua meninggalkan kita dengan luka tembak di jantung. Takkan ada lagi yang menemaniku kala kau pergi berlayar dan harusnya kau mengerti.”
“Aku tetap ada disini, di hati kecilmu.” Ungkapnya sembari merengkuh tubuh ini erat. “Tak akan ada kehangatan saat aku berdiam disini.”
Ku benamkan wajah di dadanya yang bidang, “tidakkah hadirku cukup membuatmu merasa hangat?”
Ia menggeleng pelan sambil tersenyum simpul, “bukan begitu, tapi akan ku lakukan sesuatu yang seharusnya sejak dulu ku lakukan. Jadi, tunggulah aku kembali.”
Air mata ini tak mampu lagi terbendung, “kau harus kembali dan benar-benar harus kembali.”
Sosok lembut itu perlahan memudar bersama senyum dan ciuman hangat di keningku. Wajah itu masih membekas bahkan ketika aku menutup mata. Dan kini yang tertinggal hanyalah hiruk pikuk masyarakat pantai yang ia katakan.
“Kau benar, pantai kecil kita terjamah keramaian meskipun tanpamu.” Gumamku sambil menggenggam erat serpihan perahumu.

Setengah pelacur

Aku tergoda kala bibirmu merekah
Molek tubuhmu bawaku terbang ke ujung surga
Suara kecilmu bak ombak mendesah
Walau matamu hilang di tepi telaga
Setengah pelacurku mataku liar berapi
Menjamahmu bakar nafsu birahi
Meski tahu kau layani setengah hati
Namun indahmu halus tak berduri
Dendam fantasi terwujud olehmu
Nikmat dunia terengkuh menyatu
Ah… kini dingin merambahmu lelah
Darah mengucur menggalah
Bintik matamu hilang membalik putih

Apa pula

Apa pula tanyaku bergulir
Mutiara mana putih mendesir
Intan mana bening membutir
Permata mana lekuk terukir
Bukan molek tubuh terhidang di katup
Bukan rekah bibir merah tertutup
Bukan gemuruh desah napas meletup
Bukan pula solek wajah yang membuat gugup

Halus budi lelehkan jiwa meradang
Tutur lembut lenakan lelah mendulang
Kuatmu bawaku terbang jauh ke awang
Muliamu buat dunia terang sehangat lintang

akhir tak berujung

Rinai hujan membasuh sebagian kuku alam bersama kilat petir di ujung langit. Hawa dingin menyeruak terbawa angin yang mendayung dedaunan. Gemerisik rumput dan gemuruh guntur beradu gema dengan bunyi butir hujan yang pecah menimpa bumi. Di ujung mata ini terpantul bayang manusia yang berhampur menjauhi titik air yang berjatuhan. Beberapa dari mereka bersungut dengan kesal, ada pula yang terkikik riang, tapi tak jarang sebagian dari mereka terdiam bisu tanpa seulas senyum.
Jemari kecil ini mengusap kaca berembun yang berdiri di hadapnya. Pantulan bayang di atas kaca berembun itu memperlihatkan secercah senyum tersimpul di bibir yang pucat. Ku susuri bayang wajah bayangan itu perlahan, matanya hampir layu seperti pohon muda yang tak meminum seteguk air.
“aku rindu titik hujan membasuh tubuh pucat ini.” Gumamku perlahan.
Jauh di belakang bayang itu, terlihat orang-orang menanti hujan di bawah naungan atap halte. wajah mereka terlihat cemas menanti air langit yang tak kunjung lelah berjatuhan. Air yang dulu selalu dinanti untuk segera ditenggak, sekarang sedikit banyak mulai dicemaskan segelintir orang.
“aku bosan dengan keadaan ini, sebentar lagi kita akan musnah.” Ujar seseorang suatu waktu.
Aku tercengang dengan penuturannya, “mengapa kau berpikir sedemikian?”
Mata kosongnya menatapku bingung, ia mulai menghela napas berat, “kemana saja kau selama ini? Dunia ini sebentar lagi tak akan ada.”
“menurutku tidak, masih banyak harapan bahkan dalam ketidak mungkinan sekalipun.”
“KAU TAK MENGERTI!!” teriaknya tiba-tiba.
Bibirku terkatup. Ku telusuri matanya yang setengah melotot, banyak rasa yang tak mampu ku baca.
“bahkan seharusnya kau tahu bahwa Tuhan muak dengan segala tingkah laku manusia yang tidak mengikuti aturan-Nya.” Ujarnya melunak.
Mata ini memandangnya sayu seakan mengerti apa yang tengah dipikirkan orang d depanku.
“namun, tidakkah kita bisa hidup lebih lama?” tanyaku hati-hati.
Ia mendesahkan napas panjang, “mungkin saja jika dulu kesombongan atas kekerdilan kita tak berada di ambang batas.”
Kata-kata itu terasa mengalun pelan dalam otak kecil yang tak terlalu ku gunakan walaupun Tuhan telah memberikannya secara utuh.
‘benar, kita terlalu sombong padahal otak yang diberikan pada kita saja tak mampu diolah secara optimal.’ Batinku lirih.
Retakan cahaya petir tiba-tiba menyadarkan jiwaku yang berkelana jauh bersamaan dengan suara yang menyapa lembut.
“seharusnya kau menarik selimut dan beristirahat kembali.”
Ku sunggingkan senyum simpul, “aku tak pernah beranjak dari ranjang kecuali kepentingan kebersihan badan kan? Seharusnya kau lebih tenang. Walaupun, sekarang anganku adalah merasakan tetes air hujan membasahi tiap jengkal tubuh ini.”
“aku tahu kau selalu melihat dan menelusuri bintik air hujan yang tertinggal di jendela. Namun, jika kau keluar dan mandi hujan, keadaanmu mungkin akan bertambah buruk.” Matanya sendu menatap langit dibalik kaca.
Aku termenung lama memandang rinai hujan yang berjatuhan lirih. Jemari kecil ini kembali mengusap embun di jendela.
“buruk tidaknya diri ini lunglai terkoyak, aku takkan pergi. Hati kecil yang memandangmu sayu akan tetap ada untuk sedikit menghapus kepiluan lewat bisik sembilu angin di ujung senja. Ingatlah, aku tetap disini.”