Anime : Metode Pembelajaran Baru (?)

Di kalangan remaja Indonesia, anime tidak lagi menjadi istilah asing yang dipertanyakan. Istilah yang digunakan untuk menyebut animasi khas dari Negeri Sakura, Jepang tersebut sudah akrab di telinga, bahkan beberapa penggemarnya yang disebut Otaku bersikukuh animasi tersebut memiliki perbedaan dengan istilah kartun, yang bagi masyarakat luas cenderung disamakan tanpa melihat substansi perbedaannya terlebih dahulu.
Beberapa tahun ini, jumlah tayangan anime di pertelevisian Indonesia menurun jika dibandingkan dengan era 90-an dan awal 2000-an. Dulu, beberapa judul anime seperti Sailormoon, Saint Seiya, Gundam dan Digimon banyak ditayangkan beberapa stasiun televise swasta setiap sore dan hari minggu sejak pagi hingga siang hari.
Beberapa pihak menduga penurunan jumlah tayangan itu disebabkan oleh otoritas KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang berdalih bahwa anime mengandung unsur pornografi dan kekerasan yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak. Dalih KPI tersebut langsung menuai kontra dari Otaku yang masih setia dengan hobinya walaupun harus menempuh jalan lain untuk menonton anime seperti streaming online atau download dari link tertentu.
Menurut para Otaku, tidak semua anime mengandung hal yang dituduhkan oleh KPI. Selain itu, penghapusan anime di televise bukan jadi solusi yang tepat, karena walaupun anime dihapus, anak-anak akan terpaksa menonton tayangan sinetron yang dianggap kurang berkualitas karena jalan ceritanya yang selalu percintaan dan model kehidupan hedonis yang sering dimunculkan. Apalagi bertebaran sinetron-sinetron yang menggunakan latar sekolah lengkap dengan seragam yang dikenakan tapi perilaku tokoh utamanya sangat tidak patut untuk ditiru.
Penilaian subjektif dari kedua pihak di atas tidak bisa langsung disimpulkan mana yang benar atau salah secara absolut. Karena kembali pada sifat subjektifitas, penilaian yang tidak mengikuti kaidah objektif atau disebut subjektif masih mengandung perasaan atau pikiran sendiri, apalagi jika pandangan tersebut memiliki semacam kepentingan yang harus diperjuangkan secara personal maupun kelompok.
Terlepas dari pertentangan KPI dan Otaku tentang penghapusan anime dari televisi Negeri, akhir-akhir ini beberapa kartun juga mengalami dampak pengetatan sistem KPI dengan adanya sensor blur yang berlebihan pada tokoh dan adegan tertentu.
Seperti film dan tayangan lain, anime memiliki pembagian genre dan rating usia penonton yang banyak ditemukan pada web atau blog penyedia layanan download link atau sekadar penguraian informasi seperti jenis, sinopsis, dan waktu release yang sering ditunggu oleh penggemarnya. Di negeri asalnya Jepang, ada jam penanyangan tengah malam untuk anime atau film lain yang belum sepatutnya ditonton oleh anak-anak. Pemilihan waktu tengah malam didasari oleh pertimbangan anak-anak sudah terlelap tidur. Berbeda dengan Indonesia yang menaruhnya pada jam berangkat sekolah atau waktu belajar sore.
Berbicara tentang anime, apa yang membuatnya jadi salah satu tayangan favorit bagi kebanyakan anak-anak dan remaja? Hal ini bisa dijawab apabila sang penanya mencoba untuk melihat langsung bagaimana isi anime tersebut secara langsung.
Bukan rahasia jika seorang mangaka (orang yang menggambar manga atau komik) atau penulis novel yang karya manga-nya atau novelnya diadaptasi menjadi anime adalah orang yang sudah dewasa, walaupun tidak mengesampingkan fakta bahwa ada beberapa remaja yang mulai menggeluti bidang seni tersebut. Karena sang kreator adalah seseorang yang sudah dewasa dan menginginkan sebuah karya berkualitas yang bisa dinikmati, maka mereka belajar dan menggali beberapa aspek sejarah maupun pengetahuan umum untuk dimasukkan ke dalam unsur karya yang dibuatnya.
Karena alasan tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa anime yang mengandung pelajaran sehingga cocok untuk menjadi media pembelajaran baru yang santai tetapi efektif. Contohkan saja sebuah anime berjudul Fate/Stay Night dan Fate/Zero, dari anime tersebut saja, anak-anak dan remaja sedikit banyak mengenal nama pahlawan atau penjahat dalam sejarah atau legenda dunia seperti King Arthur, Gilles de Rais, Gilgamesh, Alexander the Great dan Hassan I Sabbah.
Selain itu, banyak anime yang mengajarkan hal berguna bagi perkembangan anak dan remaja seperti persahabatan, keberanian, membela yang lemah dan menegakkan kebenaran lewat kata-kata bijak yang terselip pada dialog tokohnya. Contohnya dalam anime Kuroshitsuji (Black Butler), salah satu tokohnya, Ciel Phantomhive kurang lebih mengatakan ketika manusia masuk dalam kesulitan atau keputus asaan dan hanya ada seutas benang laba-laba yang terulur untuk keluar dari penderitaan itu, maka ia tetap berusaha untuk memanjatnya.
Dengan pertimbangan tersebut, beberapa remaja dan anak-anak memilih untuk menonton anime sebagai media pembelajaran baru yang menyenangkan. Walaupun substansi ajaran dalam anime belum tentu berguna di dunia akademis, tetapi perlu diingat kembali tujuan dari belajar terkait aplikasi keseharian yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup bermasyarakat sebagai manusia yang beradab, berprinsip dan bervisi.
Pendapat tersebut bagi kebanyakan orang tua bukanlah sesuatu yang bisa diterima seperti halnya alasan anak-anak yang belajar bahasa Inggris menggunakan media game. Sebab, banyak orang tua yang belum mengerti tentang kecocokan serta kenyamanan seorang anak dengan media belajar yang diterapkan. Sebab dalam teori psikologi, ada tiga tipe belajar yang sering dijadikan patokan dalam memahami sesuatu berdasarkan indera yang mendominasi, yaitu auditori dengan pendengaran telinga, visual dengan penglihatan mata dan kinestetik dengan sentuhan kulit.
Walaupun terlihat seperti permainan yang tidak berbobot, tetapi prinsip yang mengatakan bahwa ilmu dapat didapat darimana saja serta apapun dan siapapun dapat menjadi guru bukanlah sebuah kebohongan bila manusia mampu mengambil inti ajaran yang diselipkan oleh sang kreator.

TV Ku Sayang, Ku Rasa Malang

Ohayou minna-san.. Still with me,, mimin yang gaje ketika lihat sesuatu yang nggak srek di hati.. hoho.. Hem,, langsung sajalah.. siap? Okaayy *jempol double*

Pagi ini, as usual, mimin buka facebook (again), di forum sebuah grup yang ngefans beudht sama salah satu band terkenal yang berasal dari jepang. Disana, udah rame deh sebuah status yang nge-tag sebuah foto dari potongan acara talk show Indonesia yang bintang tamunya bintang ketje *plakk*, ehhemm.. mimin serius, pokoknya itu bintang tamu yang jadi objek fans-nya anak grup (ya iyalaahhh… secara itu fans group).

Lalu, apa masalahnya min? kenapa mimin jadi gaje cuma karena hal begituan? Mimin fanatik ya belain bintang tamunya yang *ehem* ketje abis? Atau, ada masalah lain yang mengganjal dalam relung hati mimin yang rapuh?

Bukan itu guys, gegara postingan itu, mimin jadi keinget lagi tentang KP* yang ngurusin acara di Indonesia. Eits, yang nggak tau googling dulu apakah itu KP*. Te-hee~

Jadi nih ceritanya, itu foto talk show yang ditayangin jaman kapan, mimin sampai lupa, membuahkan keresahan pada hati teman-teman grup, keresahan itu berasal dari reaksi teman-teman terhadap perilaku dan cara host acara itu memperlakukan tamu yang sangat disanjung oleh anak grup karena kelebihan-kelebihannya. Yah, mungkin ada yang tau itu acara apa,., yang jelas, itu host sering banget becanda  yang terkadang emang kelewatan. Nggak Cuma pas bintang tamunya si abang ketje aja sih.. tapi semua bintang tamu yang pernah diundang ke situ kali ya? *mimin gak suka nonton itu karena lebih enak nonton anime.. hehe*

Trus apa hubungannya sama KP*? Helloww… guys.. kemana aja kalian? Pernah nonton TV? Apa yang kalian rasakan dari tayangan TV zaman sekarang? Hem, pasti sensasinya jauh beda sama acara TV jaman dulu ya? Yah, secara sekarang kebanyakan acara TV malah menayangkan sinetron percintaan yang penuh dengan nuansa hedon. Belum lagi pemain sinteronnya, ambooii… sekarang pemain sinetron rata-rata cakep, cantik dan seksi, udah macam syarat mutlak aja buat jadi pemain sinetron.

Mimin bukannya mau jadi haters nih guys, tapi.. come on.. kemana aja sih acara-acara kita yang dulu? Yang walaupun sinetron, tapi mereka punya makna dan ajaran yang sedikit dalam. Bukan sekarang yang isinya rebutan pacar, suami, istri, harta, dll pokoknya dah.. saking mumetnya mimin gaje ini.

Selain itu, kalian lihat nggak sekarang lebih banyak ‘sensor’ yang sebenarnya menurut mimin pribadi, malah bikin orang yang lihat makin penasaran. It’s okay hide it on tv, but.. after watching tv, they will search in google.. wkwk.. you know what I mean. Saking maraknya sensor di tv, kartun dan anime juga ikutan kena imbasnya. Bayangkan guys, bayangkaaannnn,…. *back sound petir*

Pasti pernah dong kalian lihat sandy di kartun spongebob kena sensor? Di kartun tangled juga ada sensornya.. Selain itu, kemarin pas ramadhan, naruto SD juga kena sensor pas cewek-ceweknya pake bikini. Hello.. plis deh.. masa genre SD yang nggak menunjukkan detail gambar juga kena sensor? Yang bener aja KP*,, orang adegan sinetron pegangan tangan, ciuman, mereka aja nggak kena sensor kok..

So, apa maksud mimin cerita panjang lebar? Tentu aja ngajak agar kita semua memantau dan peduli dengan acara di televisi kita. Sebenernya banyak kan yang merasakan resah ketika adeknya atau anaknya yang masih kecil nonton televisi dan mereka ‘mempraktekkan’ sesuatu yang lagi ‘ngetrend’, kalau itu pantas dilakukan anak umur segitu, oke lah.. but.. seringnya nggak mutu *sorry*

Coba aja lihat, anak kecil jaman sekarang lagunya cinta-cintaan, di sekolah pada ejek-ejekan soal cinta monyet, belum lagi yang pada merengek minta dibeliin smartphone yang kayak di tv-tv biar gaul katanya. Kalau keluarganya mampu dan dia memang membutuhkannya untuk urusan pendidikan dan komunikasi, nggak masalah.. yang ada, kadang mereka nggak sadar kalau orang tua lagi berjuang mati-matian buat bayar sekolah, cicilan rumah, makan harian, tagihan listrik dan air, dan masih banyak lagi.. dan, ketika orang tua itu maksain buat nurutin keinginan ‘anak tersayangnya’ tanpa menimbang lebih jauh, maka bisa terjadi fenomena utang piutang. (mimin nggak mendramatisir ya, ini realita masyarakat sekitar mimin).

Yah, emang nggak semua orang terkena dampak negatif dari televisi sih, tapi this is our show.. show yang ada di Negara kita, yang dibikin oknum-oknum bangsa kita. Dari sekian juta ide yang melintas di kepala, kenapa sekedar itu? Jujur, bagi mimin pribadi, sebenernya orang Indonesia itu kreatif banget. Tapi kenapa acara sekarang malah dilingkar itu-itu saja? Apa karena pengaruh minat pasar yang hanya berkutat di sekitar itu saja? Kalau iya, Yah, namanya juga orang cari duit, but if there’s another way, why don’t we take it?

Kalau teman-teman semua buka facebook KP*, maka teman-teman bakal lihat banyak banget uraian keresahan masyarakat kita, karena apa sih? Karena mereka peduli. Yah, walaupun terkadang mereka merasa curahan hatinya belum tersampai kepada empunya akun. Tapi, mereka tetap ikut memantau.

Mimin jarang nonton tv karena memang di kos mimin nggak ada tv sih, lebih tepatnya ada, tetapi mbak-mbak kos udah pada booking itu tv buat nonton sinetron di beberapa stasiun tv swasta. Walhasil, mimin minggir.. nurut sama yang tua.. *plakk*

Walaupun begitu, hal pertama yang mimin sadari setelah sekian lama nggak nonton tv adalah.. iklan rokok ternyata pindah jam tayang.. selain itu, anime-anime hari minggu diganti sama kartun ‘m*tu p*tlu’ yang bagi mimin sebagai penonton nggak menarik banget. Mungkin karena KP* termakan kata-kata kalau anime itu kebanyakan vulgar dan penuh kekerasan. Hellow.. padahal tinggal genrenya aja… anime kan nggak Cuma satu dua judul aja,, bejibun bapak.. dulu aja nayangin minky momo, flame of recca, dragon league, whistle, captain tsubasa.. tuh kan.. banyak kan? Itu aja jaman dulu.. apalagi jaman sekarang yang produksi anime semakin banyak?

Mimin Cuma berharap sih, KP* melakukan evaluasi, mana yang benar-benar layak, mana yang enggak. Harus berani bertindak tegas untuk menciptakan generasi yang berguna, bermanfaat dan menjanjikan dalam rangka pembangunan mental dan moral yang kuat. Apa hubungannya sama tv? Ya ada.. karena tv itu sumber hiburan sejuta umat yang sering ditonton dan ditiru, apalagi kawula muda sekarang. Sedih tahu ketika lihat orang sekarang lebih cenderung berlaku konsumtif daripada produktif.

Walaupaun untuk sebagaian orang, itu hanya sebuah ‘acara’, tapi bagi mimin, acara itu membawa identitas kita sebagai sebuah bangsa yang besar, bangsa yang bermartabat, bangsa hebat yang dulu merdeka dengan kekuatan tekad, doa dan usaha leluhurnya yang berperang pake senjata seadanya. Kalau sekarang lebih banyak orang bisa bikin dan share kata-kata motivasi, kenapa kita nggak bisa menerapkan motivasi itu untuk maju?

Ini saatnya kita bangkit guys.. let’s do what we can do.. walaupun itu hal kecil yang terlihat sepele dan tidak berharga, tapi selalu ingat bahwa tidak ada hal yang sia-sia. Kuatkan hati kalian dan bergeraklah maju, merdeka!

Semarang, 09 Agustus 2015

Move On? Why Not?

Hello minna-san… lama mimin nggak update.. Maklum, lagi nggak ada inspirasi buat nulis apapun. Atau lebih tepatnya, banyak inspirasi yang kabur entah kemana gegara si mimin tidak bertindak cepat dalam menuangkan inspirasi tersebut ke dalam sebuah media. Hoho..

Anyway, mimin lagi kepikiran sama kata ‘move on’. Ho.. kata ini sudah nggak asing lagi dong buat anak muda zaman sekarang? Secara umumnya, sehabis putus sama pacar, pasti deh teman-teman sering banget mengungkapkan kata ‘move on’ ini. Hem hem.. mimin kok bisa kepikiran soal move on ya? Apa karena mimin belum bisa move on dari seseorang? Wow wow… check it out di bawah ini ya guys ceritanya..
Seperti kebiasaan anak muda pada umumnya, mimin buka facebook pagi-pagi dan menemukan status teman yang berbunyi “kenapa MOVE ON itu susah? Karena dari SD sudah diajari MENGHAFAL dan MENGINGAT, bukan MELUPAKAN”.

Gegara status itu, mimin jadi kepikiran sama kata move on, menghafal, mengingat dan melupakan. Yah, karena empat kata tersebut yang seakan-akan ditonjolkan oleh si empunya status. Mungkin kebanyakan orang bakal nge-like ini status karena mereka merasa ‘itu status bener banget’, atau ‘pantes aja gue belom bisa move on, ini toh sebabnya’. Nah kan, malah gitu.

Tapi, mimin juga nggak bisa nyalahin si pembuat statement sih, Cuma… C’mon guys, lihat dari sudut pandang yang lain lah. Hidup itu pilihan, apakah kita ingin hidup dengan warna abu-abu yang kelam dan jauh dari keceriaan, atau kehidupan pelangi yang berwarna dan penuh keindahan? That’s your own choice.

Kalau menurut mimin sih, nggak ada salahnya mengingat dan menghafal hal yang (mungkin dianggap) buruk oleh teman-teman yang habis putus sama pacar dan belom bisa move on. ‘Lha kok bisa? Mimin gak pernah ngerasa frustasi pas putus sama pacar ya? Atau jangan-jangan mimin itu pemain cinta yang nggak pernah serius menanggapi perasaan orang lain?’. Kalau itu yang kalian pertanyakan, tentu jawabannya enggak. Mimin juga manusia kali, pernah pacaran, frustasi karena diputusin, ngerasain cinta bertepuk sebelah tangan, bahkan susah move on yang bikin kehidupan mimin serasa dipenuhi warna kelabu.

Tapi, bagi mimin, menghafal dan mengingat bukanlah hal yang salah. Mengapa? Karena itu tahap belajar. Bagaimana bisa? Karena, sebenarnya nih guys, ketika kita berpacaran, kita tahu betul baik buruk pasangan kita. Namun, seringnya kita mentolerir apa yang kita tahu tentang dia karena alasan sayang atau cinta. Sehingga, kita tidak terlalu mempermasalahkan hal buruk yang mungkin pernah dilakukannya. Walaupun tak jarang pasangan yang tidak menyukai perilaku buruk tersebut sehingga menjadi sebuah masalah yang membawanya pada sebuah pertengkaran panjang. Ketika pertengkaran tersebut terjadi, hanya ada dua pilihan yang akan dilaluinya.

Pertama, intrsopeksi dan membuat kesepakatan untuk berubah. Sehingga, ketika masalah selesai, justru mereka akan semakin dekat dan bunga-bunga cinta bersemi lebih banyak. Yah, bisa dibilang hubungannya akan lebih hangat dari sebelum-sebelumnya. Namun, lamanya kehangatan ini bertahan juga dilatarbelakangi oleh faktor komitmen untuk berubah menjadi lebih baik.

Kedua, memutuskan hubungan. Pilihan ini merupakan yang paling sering terjadi ketika masalah yang ditemui oleh pasangan tidak membuahkan jalan keluar yang bisa disepakati bersama. Sehingga, putus hubungan ini seringkali menjadi latar belakang susahnya move on. Bisa dibilang, masalah yang belum tuntas seringkali membuahkan masalah yang lebih besar. Maka tidak heran jika ada statement yang mengatakan ‘masalah itu ada untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal pergi’.

Ok, kembali pada status facebook yang bikin mimin mikir gaje pagi-pagi. Sampai mana tadi? Oh iya, tentang belajar. Mimin, kenapa kita tidak menyalahkan menghafal dan mengingat sih? Itu kan bikin tambah sakit hati dan susah move on? Jawabannya adalah… jeng jeng jeng…

Karena kita mengetahui baik dan buruknya orang tersebut, kita jadi belajar bagaimana cara beradaptasi dengan orang yang tipenya hampir sama dengan mantan pacar kita. Selain itu, mimin percaya, kita bakal belajar tentang bagaimana cara menghadapi masalah yang terjadi kala itu. Dengan belajar beradaptasi dan memecahkan masalah, bisa dibilang kita akan menemukan cara baru untuk menjalani hubungan yang baik ketika suatu saat menemukan seseorang sebagai tambatan hati yang ‘pas’.
Berarti, statement mimin mendukung ‘menghafal’ dan ‘mengingat’? yeah.. betul sekali. Coba kita bandingkan dengan ‘melupakan’..

Ketika kita melupakan hal yang kita anggap buruk, maka tidak ada jaminan bahwa suatu saat kita tidak mengulangi kejadian yang sama. Mengapa demikian? Karena kita tidak belajar apapun dan tetap menjadi diri kita yang lama, diri kita yang bahkan tidak mengerti bagaimana cara menyelesaikan sebuah masalah yang sudah pernah dialami sebelumnya. Apakah mungkin ada orang di dunia ini yang ingin jatuh ke sebuah lubang yang sama? Mimin kira tidak pernah ada yang menginginkan hal tersebut.

Jika memang ada yang harus dilupakan, maka lupakan bahwa ia pernah menjadi pacarmu. Anggap bahwa kau telah lahir sebagai orang yang berbeda, orang baru yang akan memulai hubungan ‘persahabatan’ dengan ‘mantan pacar’ tersebut, itupun jika orang tersebut bukanlah orang yang jahat.

Apa yang mimin maksud dengan ‘jahat’ adalah.. jika orang tersebut memiliki sifat buruk yang akan membuat kita terjerumus ke hal yang tidak baik dan menyimpang. Tapi guys, kejahatan ini jangan kamu lihat secara subjektif ya.. coba Tanya penilaian teman-temanmu juga tentang dirinya. Jika kebanyaka orang berkata bahwa ia tidaklah baik, maka jauhi saja untuk kebaikan dirimu yang baru.

Namun, jika brotha dan sista tetap ingin berkawan dengannya, tak ada masalah. Selama mampu menjaga diri sendiri dan memiliki pegangan prinsip yang kuat. Terutama nih, sista-sista kita yang biasanya ‘rawan’ untuk terjerumus hal-hal negatif karena luluh dengan kata-kata manis yang ujung-ujungnya bikin sakit juga.
Okay.. bagaimana guys? Masih ingin ‘melupakan’, atau ‘mengingat’ untuk belajar menjadi pribadi yang baru dan lebih kuat dalam menghadapi masalah hidup? C’mon.. let’s move on.. tak ada orang yang ingin menderita di dunia ini, kecuali orang yang berputus asa.

Terus melangkah maju adalah hal alami yang seharusnya dilakukan manusia. sekecil apapun langkah itu, teruslah bergerak maju. Karena seberapa besar kau menangisi masa lalu dan bermuram durja, maka keadaan tak kan jua berubah jadi baik. Jika kita bisa menciptakan kehidupan berwarna pelangi, mengapa harus memilih kehidupan abu-abu?
Kehidupan memang penuh dengan masalah, karena dari sanalah kita belajar untuk berjuang dan bertahan. Sebenarnya kata-kata ‘hanya yang terkuatlah yang akan bertahan’ tidak sepenuhnya salah. Karena kekuatan tidak hanya berasal dari fisik semata. Hahay..

Jadi, sudahkah anda memutuskan untuk move on? 

Semarang, 07 Agustus 2015

dekap di musim lalu

“Benar.. Sedikit lagi.” gumamku sembari sibuk mengetikkan beberapa baris kata lewat tuts keyboard yang hurufnya sebentar lagi tak hanya sekedar pudar, namun hilang tak berbekas.
Mata ini tak sekalipun melihat pemandangan selain layar komputer, kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan setengah bagian dapur yang lebih tepatnya di depan isi kulkas. Apabila mampu diri ini menjeda sejenak saja aliran ide dalam otak, maka akan terlihat pemandangan tak karuan dari tempat tinggal seorang wanita lajang yang seharusnya menyadari pentingnya kebersihan bagi dirinya. Ya, bila kita gambarkan pemandangan tak mengenakkan itu, tentu visualisasi yang muncul takkan berlari jauh dari setumpuk baju bersih dan kotor yang berserakan di atas tempat tidur dan sebuah pojok kamar. Namun jangan sekali-sekali menganggap itulah satu-satunya hal yang mampu diamati dari rumah sang perawan ini. Tumpukan piring kotor, bungkus keripik kentang dan beberapa makanan ringan, bekas cup noodles, kotak susu dan jus buah, serta buku, kertas dan pena tak karuan memenuhi flat yang tak seberapa luas.
“yah.. Lalu… Ah, sial. Mengapa cepat sekali habis?” ucapku kesal ketika melihat cangkir kopi yang tinggal berisi sedikit ampas. Dengan malas, kuangkat tubuh menuju dapur untuk mengisi kembali cangkir tersebut.
“dan sekarang, air yang tadinya panas sudah kembali dingin. Hanya untuk secangkir kopi, aku harus menghabiskan waktu lama meskipun tealh ku gunakan racikan kopi instan.. Yah, sedikit peregangan sambil menungguinya mendidih mungkin bukanlah ide yang buruk.”
belum sempat ku tarik tangan dan kaki untuk gerakan peregangan yang biasa, terdengar bel pintu berbunyi. Tanpa menunggu waktu lama, kakiku melangkah untuk segera membukakan pintu untuk seorang yang sudah merelakan waktunya untuk mengunjungiku. Ketika pintu terbuka terlihat seorang wanita yang tak asing dalam sejarah kehidupanku.

Belum sempat kata terlempar dari sepasang bibirku, ia berteriak begitu saja sembari memeluk tubuhku erat, “aaiiraaa!!! Aku merindukanmu! Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Hem.. Kau bahkan tak punya waktu untuk menghubungiku. Kau pikir hidup ini bisa dilalui jika kau seorang diri saja? Seharusnya…hummpppp..” ku bekap mulutnya yang tak berhenti mengoceh.

“sebaiknya kita masuk terlebih dulu.” ajakku yang hanya dibalas anggukan kecil. Ia berjalan mengikutiku tanpa bicara sepatah katapun walau melihat pemandangan (tebaran barang dan sampah) yang sebenarnya sangat mengganggu.

“duduklah dimanapun kau suka. Kau suka kopi?”

Ia terdiam sejenak, “susu hangat jika kau tak keberatan, dan.. Tambahkan sedikit cokelat.. Hehe.”

Senyumku mengembang, “kau tak pernah berubah. Oh ya, aku tahu tempat ini buruk, tapi bisakah kau tak melakukan apapun? Maksudku membereskan atau membersihkannya”

“apa? Kau bercanda? Tempat ini tak jauh berbeda dengan tempat sampah.”

Ku garuk kepala yang sama sekali tidak gatal, “pokonya jangan lakukan apapun untukku. Mendapatkan bantuan membersihkan tempat ini akan membuatku sial.”

Ia tertawa kecil, “kau selalu saja begitu. Baiklah, aku takkan melakukan apa-apa.”

“bagus”. Jawabku sambil melangkah pergi meninggalkannya yang tengah duduk di ruang tamu sembari meneruskan pengamatannya pada keadaan sekitar yang berantakan.

Ketika aku kembali dengan membawa secangkir kopi dan susu, ia tak lagi duduk disana. Kucari ia yang ternyata duduk di depan komputer yang tadi ku tinggalkan dalam keadaan menyala. Matanya sibuk membaca ‘pekerjaan’ yang belum terselesaikan. Segera ku letakkan secangkir susu hangat yang ia pesan di samping komputer itu. Ia sedikit kaget dengan gerakanku, namun ia segera tersenyum.

“oh.. Hei.. Terima kasih. Kau masih melakukan ini ternyata, mengapa kau tak pernah bercerita padaku?” ucapnya sembari menyerutup isi cangkirnya yang masih panas.

“biar ku pikir sejenak,” kataku sembari menyulut sebatang rokok di dekat jendela, “kau tahu aku orang bodoh, mungkin itu alasannya.” ku nikmati asap rokok yang terhisap untuk kemudian ku keluarkan, “kau mengerti maksudku kan? Ku rasa akan jadi masalah kalau orang bodoh ini menjadi terkenal.”

Ia menghela napas, “kau tak berubah, aku kira apa yang dikatakan orang lain tentangmu di masa lalu seharusnya tak lagi kau ungkit dan jadikan prinsip. Justru baiknya kau buktikan pada dunia bahwa tak ada manusia bodoh di dunia ini, mereka hanya berpotensi dalam bidang tertentu. Kau tahu, apa yang kau tulis ini bernilai banyak. Dan harusnya..”

“aku tahu, dan seharusnya kaupun tahu semua tulisan itu sudah diterbitkan.” potongku.

Matanya mendelik, “kau bercanda? Aku bahkan tak pernah melihat nama aslimu maupun nama samaran yang sering kau gunakan tercantum pada buku, novel atau antologi manapun.” ia berjalan mendekat, “dengar, kau harus berubah. Ini bukan tentang masa itu.” tangannya melingkar memeluk tubuhku yang membelakanginya.

“dan kaupun harus mengubah perasanmu  terhadapku.” ucapku sambil melepas pelukan itu, “semua tulisan itu telah dicetak dan diterbitkan atas nama orang lain.”

“kau bergurau?”

“lihat mataku,” ku pegang kedua bahunya lembut, “apa aku terlihat sedang bergurau?”

“tidak, tapi..” ia berhenti sejenak,  “mengapa?”

Ku matikan rokok yang entah mengapa kali ini tak terasa enak untuk dinikmati, “mereka datang kemari, dengan beberapa kata manis menjeratku untuk menjadi seorang kawan, yah, semacam diplomasi jika kau memperumpamakanku sebagai negara. Jika kau sadar, tak ada hubungan yang tidak mengharapkan sesuatu, itu kenyataan. Mereka mengambil semua draft tulisan yang berhasil aku susun dengan susah payah. Tanpa sepengetahuanku, mereka menerbitkannya dan memberiku 30% dari total royalti yang diterima.”

Ia terdiam, terlihat matanya sedikit memerah dengan genangan air yang sepertinya ditahan. Ku biarkan ia seperti itu sambil menikmati secangkir kopi yang sudah dingin oleh hembusan udara dari arah jendela yang belum ku tutup selama tiga hari.

“kau..” ucapnya lirih, “mengapa tak kau laporkan saja pada polisi?”

Aku tertawa geli, “polisi? Dan kau kira itu akan membantu? Sekarang hukum tunduk pada uang, seberapa kuat kau menolak, fakta itu takkan mampu disangkal. Lagipula…” ucapku sambil melepas potongan koran nasional yang tertempel di belakang pintu, “kau pasti ingat fenomena ini.”

Matanya mendelik lebar dan menjatuhkan beberapa bulir air mata berjatuhan kala melihat potongan koran tersebut.

“kau pasti ingat, dahulu semua orang memanggilku idiot hanya karena tak pernah ku dapat nilai baik dalam jenjang akademis formal. Deskriminasi sosial, bahkan tindak pemudaran eksistensi terus dilakukan walaupun aku menjadi seorang yang berlaku jujur, baik dan suka menolong sesama. Tapi kau ingat, semua itu sia-sia, karena segala hal dilihat dari nilai itu. Ya, nilai yang tak pernah ku capai karena otakku yang bodoh.” ku tempelkan kembali potongan koran tersbut ke tempat asalnya, “ya, ku rasa ada benarnya sistem negara ini. Kalau ada penghargaan untuk orang yang cerdas, maka harus diadakan pula penghargaan bagi orang yang bodoh, walaupun indikator cerdas dan bodoh itu adalah nilai akademis yang mudah dimanipulasi. Tapi,, sudahlah, yang harus ku lakukan sekarang hanyalah hidup dengan kepercayaan dan cara yang ku yakini benar. Begitupun denganmu, kau seharusnya juga…” belum selesai apa yang ingin ku sampaikan, tiba-tiba saja ia mencium bibirku.

“kau mengatakan semua itu seolah-olah kau benar.. Aku mohon hentikan. Semua ini bukanlah kesalahanmu. Semua itu kesalahan mereka yang tak mampu memahami sisi lain dari dirimu. Lagipula, mereka terlalu terpaku pada hal-hal yang aku anggap kaku dan tak seharusnya kekakuan itu tetap dijadikan ukuran untuk menilai kemampuan seseorang. Bahkan kekerasan tak ragu mereka lakukan walau berbentuk verbal.” ia menarikku untuk duduk di hadapannya, “tak ada orang bodoh di dunia ini, ingat itu? Jadi berhentilah meracau tentang masa lalu yang tak seharusnya menahan langkah kita untuk terus maju pada cahaya cita yang menerangi hati.”

Bibirku bungkam seakan tak ada lagi pembelaan yang bisa ku lemparkan padanya. Seketika kegelisahan melanda. Ku pandangi wajahnya yang sedari tadi menatapku dengan sorot teduh. Namun, keteduhan itu seakan tak mampu membawa kedamaian pada hatiku yang rapuh, bahkan gelisah dan resah terasa makin menghimpit kala senyum manisnya.

Ku pecahkan keheningan itu dengan pertanyaan yang sedari tadi tertahan, “Aila, katakan padaku, mengapa kau datang kemari?”

Diraihnya sebelah tanganku yang kemudian digenggam erat oleh kedua tangannya, “karena aku mencintaimu, dan rasa cinta itu membawakan sebilah rindu pada hatiku.”

“bukankah dulu aku menyuruhmu untuk pergi? Kau tahu, perasaanmu bukanlah sesuatu yang benar..”

“menurut sebagian orang.” potongnya, ” bahkan aku takkan peduli jika orang mencemoohku. Karena kejujuran dari rasa ini harus tersampai, atau aku akan mati dengan rasa penyesalan yang tak seharusnya.”

Ku hela napas panjang, “lagi-lagi kau seperti itu.” kataku sambil melepaskan genggamannya yang hangat, “aku takkan membiarkanmu seperti ini. Kau harus menemukan bahagia yang sesungguhnya, dan kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang bisa kau dapat dariku.”

“karena kita sejenis?”

“ya, hampir seperti itu.” jawabku cepat, “dahulu, semua orang menyangka kita adalah saudara sekandung hanya karena nama kita berbeda satu huruf; Aira dan Aila. Dan dari sanalah kesalahanku berasal, karena kau bahagia dengan persamaan nama itu, kau jadi melekat manja padaku. Tak hanya itu, seiring waktu berlalu, kau tak lagi memandangku sebagai seorang saudara, tapi seseorang yang kau cintai layaknya seorang wanita mencintai lelaki.”

“kau tau, Aira. Tak ada yang salah dalam mencintai, karena perasaan ini bukanlah sesuatu yang dapat dimanipulasi sekeras apapun kita berusaha. karena dari rasa itu, muncullah kekuatan untuk mengubah diri demi orang yang kita cinta. Sebab, tak ada satu pecintapun yang ingin dirinya dan kisah kebersamaannya buruk. Maka dari itu, akupun akan melindungimu dari orang-orang yang sedari dulu senang sekali menghinamu. Bagaimanapun juga, kau tak seburuk yang orang lain kira.”

Ia mendekapku, sungguh hangat dan dalam. Setidaknya, ingin ku linangkan beberapa butir air mata saat itu juga. Namun, mataku seakan tak mampu mengeluarkan apapu, bahkan setetespun air bening untuk sekedar memperlihatkan rasa haru. Tak ingin rasanya dekapan itu terlepas begitu saja, namun sekarang telah pudar oleh sang waktu.

Lamunanku terhenti kala dering telepon berdenting. Tak ingin musik itu mengganggu tidurnya yang nyenyak, maka segera ku angkat setelah melihat sebuah nama yang terdisplay di layarnya.

“nona, semua target kita telah lenyap. Misi ini sukses, sebentar lagi media akan heboh dengan kabar banyaknya kematian tokoh yang hingga kemarin masih diagungkan.” Katanya dari seberang telepon.

Aku menyeringai puas sembari menutup telepon tanpa menjawab sepatah katapun. Tak lama, ku langkahkan kaki menuju sebuah kamar bertema remaja perempuan dengan cat dasarnya yang merah muda bermotif biru. Di tengah kamar itu, terdapat sebuah peti besi berisikan perempuan muda yang tengah tersenyum dengan bibir pucat dan mata yang selalu terpejam.

“Aila, mereka sudah mati. Kini, kau pasti sedang tersenyum bahagia. Bagiku, kematianmu adalah kepalsuan, karena kau selalu hidup dalam hatiku.”

(Semarang, 31 Maret 2015)

seikat senyum untukmu

Ku awali malam ini dengan mengetikkan beberapa baris kata di kertas virtual. Perkembangan zaman selalu membuatku kagum, bahkan tanpa tinta dan kertas nyata tercipta banyak karya berbentuk virtual. Lalu sebenarnya untuk apa pabrik kertas terus berdiri saat kertas virtual ini menjadi alat pengganti terefektif?
Sejenak ingatan ini membawaku pada pertanyaan konyolmu, “lalu kenapa kau tak bertanya kenapa petani masih menanam padi?”
Aku tersenyum kecil dan menggeleng bingung, sungguh aneh kemajuan dunia ini.
“jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku tanpa memberi sedikitpun komentar atas pertanyaannya.
“hmm, tak ada yang benar-benar ingin ku lakukan.” Matanya menerawang jauh seakan membongkar laci keinginan dalam otaknya yang (mungkin) semrawut.
“baiklah, jika otakmu juga tak memberi respon tentang pertanyaan kecilku, mari kita berbaring memandangi langit yang mulai gelap. Berharap bintang akan menyapamu ramah.”
Ia terkekeh kecil, “untukmu, mungkin bukan bintang yang akan menyapa…”
Aku mengernyit bingung menanti kata-katanya yang menggantung, hingga ia melanjutkan “tapi mungkin meteor yang akan menabrak dan membumi hanguskanmu.”
“itu tidak lucu kawan,” ia tetap terkekeh.
Langit senja semakin memudar dan berganti warna, kontras warna yang halus,orange keunguan berpadu dengan biru gelap kehitaman yang seakan ingin mendominasi, memang hitam merupakan warna netral yang terlalu kontras dan kuat.
“hei, kenapa warna gelap kehitaman di langit mendminasi merah orange? Bukankah merah selalu menjadi warna mecolok yang begitu memikat dan menjerat mata saat ia pertama berpaling?”
Aku terdiam beberapa saat, tak kutemukan jawaban yang tepat untuk memuaskan mulutnya yang senang mengoceh, “hemm,,, mungkin karena hitam adalah warna keabadian, sedangkan merah adalah warna mencolok yang terlalu angkuh dan menebar pesonanya.”
Ia mulai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Bola matanya berputar-putar seakan ingin mengetahui sesuatu yang lebih. “jadi menurutmu, merah adalah warna yang buruk?”
“tidak..” jawabku tegas, “hanya kadang aku terlampau mengidentikkan merah dengan sesuatu yang bersifat kriminil”
“lalu bagaimana dengan pendapat bahwa merah adalah lambang keindahan tubuh dan bahasa cinta?” kejarnya tak mau mengalah.
Akhirnya ku hela napas yang tertahan, “entahlah, aku lebih suka melambangkan cinta dengan lambang putih, karena bagiku cinta bukanlah sesuatu yang berwarna cerah menantang, sebab terdapat unsur ketulusan, kasih sayang, dan kejujuran yang semuanya mengarah pada sesuatu yang suci dan patut dijaga. Sedangkan untuk melambangkan keindahan tubuh, bukankah merah malah sedikit melambangkan kucuran birahi? Tapi terserah bagaimana otakmu memiki…awawawawaw….”, belum sempat ucapan ini berakhir, ia malah menarik pipiku.
“hahahaha.. sudahlah, tak perlu serius begitu.” Senyumnya mengembang lebar.
Tak ku hiraukan canda yang membuat kedua pipi ini merah kesakitan, “ah, tentu saja karena separuh otakmu itu tak benar-benar bekerja.”
Tanpa terduga, ia berpindah jongkok di depanku sembari menatap wajah ini lekat, “dan sekarang kau mengatakan kejujuran tentang keadaan otakmu itu.”
Seketika mataku membulat, “aku tak sebodoh itu. Yah, mungkin.. mungkin.. ah..mungkin Tuhan sedang menyicil otakku agar tak terjadi kesombongan pada diriku,.. te-hee.”
“hahaha.. yah.. teruskan saja imajinasi yang kau anggap sebagai sebuah kebenaran.. dasar, kau tetap tak berubah. Dan, itulah yang ku suka darimu.” Tangan lembutnya membelai kepalaku lembut.
“karena aku tak berubah, apakah kau akan berjanji untuk tak meninggalkanku?”
Ia terdiam sejenak, “hemm.. biar ku pikir terlebih dulu.”
Satu menit…
Dua menit…
Lima menit…
Aku mulai lelah menunggunya, “aahh… terlalu lama! Dan kau bilang otakku yang tak berfungsi.”
“hehehe…” ia terkekeh kecil, “aku memang menyukai dirimu yang apa adanya, tetapi ada kalanya manusia memang harus berubah. Tetapi ingat satu hal, jangan sampai perubahan itu tidak menunjukkan siapa dirimu. Jadilah dirimu sendiri, berbanggalah dengan orisinalitas yang ditanamkan Tuhan kepadamu, tak perlu bertopeng untuk mengimitasi orang agar dianggap baik. Mengerti?”
Ku miringkan sedikit kepala sebagai pertanda sedang berpikir, “baiklah, aku berjanji akan tetap jadi diriku.”
Ia tersenyum simpul kemudian mendekatkan bibir hangatnya ke dahiku, ciumannya selalu membuatku bahagia. Bahkan hingga sekarang, meskipun takkan lagi ku rasa ciuman itu.
Setiap waktu, hanya ku pandang fotomu yang terletak di sebelah perangkat komputer ini. Ya, komputer yang berisi semua tentang kita, sejak pertama kita bertemu hingga kepergianmu terlebih dulu yang meninggalkanku dalam kesedihan yang mendalam. Tetapi, bagaimanapun juga aku mulai mengerti, kau takkan mungkin suka melihatku terkurung dalam kelamnya duka.

Biar mengalun

Hati rebah melingkar jatuh terinjak
Berselimut hina, darah dan air mata jiwa
Membengkak letih tertabur perih garam cerca
Satu bungkam wakili berjuta koreng nanah
Menjerit pun tak berdaya… berbusa..
Suara tertelan vakumnya ruang semesta
Bising disana menyayat sepi yang terkapar.. perih..
Bahagia bualan canda bersemu fana
Berkembang kuncup bangkai tercium wangi
Lumpuh rasa tak sanggup mekar.. busuk..
Ujung sana tak ada tepi menanti.. mati..
Tak berakhir walau dunia mengharu sepi
Pekat awan membumbung ejek burung kenari
Mencuat rindu berkecamuk dalam hati
Gugur seribu cahaya ditelan gelap bersemi
Membeku dingin bersama untai ratapan misteri

Aku tak tahu

Di bawah naungan langit senja aku termenung.. bukan suatu rangkaian kata-kata manis yang tersampai, hanya beban-beban tak penting yang lama teronggok.. kau tahu apa? Aku sendiri tak tahu.. jariku menari di atas tuts keyboard seiring kata-kata yang berjalan tepat di depan mata. Otak ini seakan menginginkan kata-kata random yang lama berputar, lalu sebenarnya.. apa itu? Ku telah katakan padamu kesekian kalinya, aku tak tahu..

Lalu sebenarnya kenapa jemari ini terus menari? Tentu karena sebagian otakku menginginkannya menulis, menuang, membongkar semuanya.. semua hal tak penting yang membuang air mata, tawa dan sendu.

Aku lelah, semakin tak mengerti apa sebenarnya maunya diri ini. Kata-kata terus terketik seiring langit yang semakin merah hingga memudar menjadi ungu dan gelap. Lalu apa hasilnya? Ku bilang sekali lagi aku tak tahu..

Aku hanya ingin menuang kata-kata yang terus berputar tanpa arah dan arti yang jelas. Lucu memang, tapi bagiku tak sedemikian.. sama sekali tak lucu.. aku hampir gila dengan kata tak terarah ini.. lalu harus bagaimana?

Tak ada jawaban.. bahkan dari ujung pandangku pada langit senja. Langit…benar… kadang aku memikirkan banyak hal imajinatif yang tak mungkin terjadi secara rasio.. bisakah aku menghilang? Bertransformasi menjadi bentuk lain yang akan menghapus memori manusia tentangku, tentang semuanya. Lalu kenapa ku inginkan hal aneh yang tak mungkin terwujud?

Sekali lagi, sekedar berlari dan bernaung pada sinar bintang yang bahkan masih berpijar kala purnama datang menjelang. Sebegitu inginkah aku musnah? Mungkin. Ya..ataupun..tidak.. biarlah.. biar hal gila ini terus berputar dan mencapai batasnya.. suatu saat nanti, mungkin kata tak bermakna ini akan tersusun indah menjadi melodi.. ya.. melodi yang akan dikenang oleh seseorang.. siapa kau bilang? Sekali lagi aku tak tahu

Cukupkan omong kosong ini, dunia tak membutuhkannya meki tak ada larangan untuk mengumbarnya. Lalu sebenarnya, sekali lagi.. apa itu? Dan ku jawab berkali-kali.. aku tak tahu.. bahkan hal terkecil yang mungkin akan diketahui oleh orang pada umumnya. Namun sekali lagi aku hanya ingin berputar, terserah apa katamu, kata mereka, dunia tak membenciku saat kata-kata ini berputar dan mengalir dalam syaraf otakku yang mungil. Jadi biarkan aku menghilang dibalik langit senja yang menenggelamkan matahari jauh di ujung pandang dunia.

(Semarang, 23 Desember 2013)