Lulus = Kejar Gelar = Tabu (?)

​Ohayou pembaca setia mimin *hug hug* sudah rindu dengan celoteh tak berbobot mimin kah? Heemm.. masalahnya mimin tidak akan berceloteh jika tak terusik dengan sesuatu, dan itu sangat merugikan bagi mereka yang berkecimpung di dunia kreator, dunia kreator itu kejam, bung! #eeaa

Apa kabar mimin hari ini? Alhamdulillah mimin pusing dengan kabar bergantinya gelar untuk jurusan mimin yang semula S.Psi.I menjadi S.Ag, isunya sih, pergantian ini sudah banyak dilakukan sejak zaman entah kapan di Universitas Islam Negeri lainnya walaupun mimin nggak ngecek juga.

Untuk sebagian orang mungkin tersenyum dan berkata ckckck, jadi ente sekolah dan kuliah Cuma buat dapet gelar? eiittss jangan salah, itu adalah setengah kebenaran yang menurut mimin bukan jadi suatu hal yang tabu. Why? Check it out guys!

Sekarang tutup mata dan renungkan tulisan mimin *plakk, yaudah gak perlu tutup mata, cukup baca dan resapi saja selagi sempat *gaje mode : ON.

Pada dasarnya, mengapa manusia mencari ilmu di lembaga formal sedangkan ilmu tidak terbatas pada formalitas? Hayo.. ada yang tahu? Sebab formalitas kelembagaan dibutuhkan untuk melakukan beberapa hal di Negeri tercinta kita a.k.a Indonesia. Contoh kecil, mencari pekerjaan, mengajukan profesi, dll. Kok kelihatannya malah bolak-baliknya di dunia kerja ya? Apa mimin yang kurang wawasan? Hahaha, intinya begitu saudara-saudara. 

Formalitas gelar dan label pendidikan terakhir yang ditempuh dibutuhkan untuk hal-hal seperti itu. Sepertinya memang sepele, mengingat di zaman sekarang banyak orang yang bisa sukses tanpa gelar dari pendidikan formal. Tetapi jangan lupa, setting awal memasuki lembaga pendidikan adalah LULUS, sejak jenjang TK yang belum mengenal pentingnya arti lulus hingga Universitas yang susah payah revisi skripsi agar diluluskan.

Jika pembaca tidak percaya dengan fenomena mind set lulus tersebut, silahkan buka-buka akun sosial media anda pas musim wisuda, yang wisuda akan berkata alhamdulillah wisuda, Sarjana apalah apalah sedangkan mereka yang menemani wisudawan pasti berkata besok gentian ane, ayo pejuang toga, biar bisa selfie pake toga. Mengerti? Hedeh.. intinya, mengapa harus menjadi seorang pejuang toga dan bercita-cita selfie pakai toga kalau tidak mengejar kata lulus yang berarti menyandang gelar sarjana di belakang nama? Sudah cukup memunafikkan diri, akui saja tidak ada alasan untuk menolak bahwa kita pun butuh kata lulus tersebut, urusan gelar mau dipakai di belakang nama atau tidak, itu kan urusan per individu, see? Karena lulus terhormat itu lebih menyenangkan dan menyejukkan orang-orang tercinta dibandingkan lulus dengan label drop out. #eeaa

Next, ada pertanyaan? (mimin mengacungkan jari *plakk) jadi, sekolah di lembaga itu bukan untuk menuntut ilmu ya min? tapi sekadar cari gelar aja? Mimin gimana sih? Udah kuliah di universitas label agama kok masih aja gak masukin unsur agama? Mimin kan tahu kalau cari ilmu itu dari masih di ayunan sampai masuk liang kubur, apa jangan-jangan mimin kuliahnya numpang absen doang? Mimin ap- *dibekap mimin.

Fiiuuhhh apa tadi pertanyaannya? Oh soal menuntut ilmu, super sekali penanya kita yah, give me applause, *dilempar sandal sama pembaca. Ehheemm oke serius, menuntut ilmu? Mimin udah kasih clue loh di paragraf-paragraf atas kalau mencermati, kalau tidak, baca tulisan ini dari awal,, hoho..

Memang benar meuntut ilmu sangat dianjurkan dan diwajibkan, walaupun kita tidak punya kesadaran untuk menuntut ilmu, sebenarnya kita sudah menuntut ilmu secara sadar maupun tidak. Sebab, kehidupan itu tidak sesimpel kelihatannya. Lihat saja seorang bayi, dia lahir hanya bisa menangis dan tidur dengan posisi yang sudah diposisikan oleh orang lain. tapi lama-kelamaan dia bisa tengkurap, yang awalnya Cuma nangis bisa ngakak, yang dulu Cuma tiduran bisa merangkak, dst, simple yak? Tapi sadarlah bung! Itu pun belajar dan berlatih, tidak ada yang terlepas dari ilmu.

Lalu, kaitannya dengan gelar? Ingat kata-kata mimin di atas, ilmu tidak membutuhkan formalitas. Artinya, semua hal adalah ilmu dan mereka pula guru yang mengajarkan kita segala sesuatu. Manusia itu dinamis, sampai akalnya pun dinamis, bisa berkembang, bisa merangkai teori dari hal-hal yang dipahami, bukankah Tuhan itu hebat? Dia membuat kita belajar everything everywhere everytime dan every every yang lain dengan atau tanpa kita sadari?

Kalau soal mencari gelar di lembaga pendidikan formal adalah tabu, maka untuk apa harus masuk lembaga formal yang biayanya selangit dan tidak bisa ditawar? Bukankah menuntut ilmu di rumah juga bisa? Lebih irit malah, apalagi kalau metodenya observasi, Cuma mengamati, menyeluruh lagi, apalagi kalo bisa imitasi dengan sempurna, untung banget kan?

Walaupun begitu, unsur menuntut ilmu sebenarnya tidak dihilangkan dalam hati pelajar di lembaga. Mengapa? Karena mereka tidak perlu menjadi tujuan lagi, mereka sudah otomatis menjadi bagian dari proses mencari gelar tersebut, bahkan mungkin bagi beberapa orang, mereka lebih banyak mendapatkan ilmu di luar kelas yang artinya, ketika mereka lulus secara formal, kemungkinan mereka juga meluluskan diri dari program pendidikan lainnya, yaitu lingkungan kampus yang mungkin lebih kompleks dari yang dibayangkan.

Jika seorang guru sekolah mengajarkan kita untuk menata niat menuntut ilmu ketika berangkat ke kelas, maka tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau, mari kita ajak ia untuk menata niat itu kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Sepele, tapi vital dan sangat penting, minimal untuk mempertahankan diri, dari apa? Kebodohan. Menghargai diri, dari apa? Dari penghinaan dan penilaian bahwa diri kita kecil, dari siapa? Tentu dari diri kita sendiri. Untuk apa berlaku pesimis kalau kita bisa menjadi besar? Jika tidak mau, silahkan saja mengecilkan diri anda setiap waktu, lalu, mana kemauan jadi lebih baiknya? Jangan hanya jadi slogan dan omong kosong ya ^^

Jadi, kesimpulannya apa? Tidak perlu meributkan tentang tabu atau tidaknya mencari sebuah gelar, apalagi menggunakan dalih menuntut ilmu, cukup kita renungkan baik buruknya untuk kemudian menjadi praktek nyata di kehidupan kita. Apa yang terpenting dari itu semua adalah, jika anda belum menyadari pola menuntut ilmu otomatis yang ada di kehidupan anda, maka silahkan disadari terlebih dahulu dan berhenti lah menggunakan dalih dari agama untuk membenarkan pemikiran anda apalagi jika itu digunakan untuk mencela orang lain. terlepas dari benar salah, tulisan ini murni pemikiran mimin yang mungkin tidak bermutu dan cenderung menggelikan, andaikan bisa memberi manfaat, mimin pasti sangat bahagia.

Dont forget yah, all of us know what we have to do, all of us through our own way to live, so all of us have to live in peace. Ayo saling memahami dan menghargai 😀

Semarang, 21 Agustus 2016