Antara Buku dan Go Green

“Buku adalah jendela dunia”, demikian slogan dari berbagai program peningkatan minat baca yang sering diungkap dalam dunia pendidikan.

Kebiasaan membaca dianjurkan sebagai sebuah kegiatan positif yang berguna untuk mengasah intelektualitas dan memperkaya kosakata, terutama bagi kaum pelajar berbagai tingkat yang masih berkembang.

Ebook produk modernitas

Perkembangan zaman membuat manusia harus melakukan adaptasi terhadap globalisasi dan modernitas, terutama perkembangan internet beserta perangkat aksesnya.

Perkembangan dunia informasi dan teknologi juga melakukan evolusi terhadap buku cetak dengan alasan harga yang lebih murah, ramah lingkungan, dan praktis.

Produk Ebook (electronic book) atau buku yang dikemas secara digital menjadi sebuah trend baru yang sangat memudahkan manusia untuk membaca dimanapun dan kapanpun. Sebab Ebook memiliki beberapa kelebihan yang tidak ditemukan pada buku cetak. Seperti ukurannya yang sangat kecil, harga murah, perawatan yang mudah, serta ramah lingkungan.

Reboisasi lambat, harga kertas melambung

Kebutuhan besar terhadao kertas menjadi salah satu faktor terancamnya ekosistem hutan. Karena, peroduksi kertas  membutuhkan serat kayu yang mengadung zat seperti selulosa dan hemiselulosa.

Apabila penebangan pohon dan reboisasi tidak dilakukan secara imbang, produsen kertas dapat mengalami masalah dalam menemukan bahan baku yang berakibat melambungnya harga kertas di kemudian hari. Peningkatan harga kertas tentu mempengaruhi harga jual buku yang meninggi dan daya beli masyarakat yang cenderung melemah.

Fenomena meningginya harga kertas dan buku menjadikan banyak pihak melakukan transformasi media cetak ke media digital. Langkah ini dianggap sebagai solusi agar tidak terjadi kerusakan ekosistem dan kepunahan dini.

Tetapi, penyelesaian dengan metode transformasi menimbulkan kepanikan tersendiri bagi beberapa perusahaan cetak. Pasalnya, transformasi digital berkemungkinan menjadi faktor penurunan order dan ancaman  pailit.

Buku cetak masih primadona

Terlepas dari pro-kontra mengenai buku dan aksi penghijauan atau go green, buku cetak masih menjadi primadona bagi beberapa kalangan. Bahkan, dalam sistem pendidikan buku cetak menjadi media utama dalam pembelajaran, terutama di jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Penggunaan buku cetak di jenjang tersebut berkaitan dengan pengembangan skill dalam menulis, memahami dan mengorganisir catatan. Selain itu, kegiatan menulis di lembaran cetak atau kertas menumbuhkan kreativitas di bidang seni seperti kaligrafi, ideografi, dan menggambar sketsa.

Berbeda dengan jenjang TK-SMA, di jenjang kuliah, buku cetak lebih banyak digunakan sebagai referensi untuk membuat tugas-tugas perkuliahan. Walaupun Ebook sudah banyak diterbitkan oleh beberapa kalangan, namun beberapa dosen di universitas tertentu masih menetapkan kebijakan bahwa referensi yang utama dan dapat dipertanggungjawabkan adalah buku cetak. Kebijakan tersebut didasarkan pada hak paten dan pengakuan sumber secara akademis.

Meskipun buku cetak lebih banyak digunakan dalam dunia pendidikan, tapi tidak mengubah fakta bahwa sebagian masyarakat masih menggemari buku cetak sebagai media wacana. Pemilihan ini lebih didasarkan pada kepraktisan buku yang tidak memerlukan perangkat tertentu untuk membacanya. Selain itu, buku cetak dapat digunakan untuk menghiasi sudut-sudut rumah agar kesan estetikanya bertambah.

Kepuasan dalam memiliki buku cetak pun berbeda dengan Ebook. Beberapa orang mengaku bangga ketika memiliki banyak koleksi buku cetak, apalagi jika seluruh koleksinya sudah selesai dibaca dengan seksama.

Solusi : Go green dan daur ulang (?)

Penilaian tentang lebih baik mana antara buku cetak dan Ebook bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan. Sebab, segala sesuatu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Adapun pro-kontra tentang buku cetak dan aksi penghijauan atau go green  tidak akan menemukan titik akhir apabila kesadaran per-individu tidak ditumbuhkan dan diaplikasikan pada media yang konkret.

Program seperti satu orang satu pohon sebenarnya sangat membantu jika terealisasi dengan baik. Akan tetapi, minimnya lahan untuk menanam menjadi masalah lain yang harus ditangani dan ditemukan penyelesaiannya.

Cara lain yang dapat membantu program reboisasi dan pengadaan kertas adalah daur ulang karena dianggap sebagai sebuah solusi. Seperti yang diketahui, kertas terbuat dari serat kayu yang merupakan bahan alami sehingga dapat diperbaharui.

Namun, program daur ulang belum bisa teralisasi secara optimal dikarenakan pengolahan sampah yang belum terorganisisr dengan baik.

Berkaca pada Negara maju seperti Jepang, daur ulang memiliki dampak positif bagi perekonomian dan kebersihan lingkungan. Contoh kecilnya pada daur ulang lampu neon yang dapat memisahkan zat fosfor yang seharusnya tidak dibuang sembarangan. Zat fosfor yang sudah dipisahkan kemudian digunakan untuk keperluan industry lain. sama halnya dengan kaca neonnya yang beberapa persennya digunakan ulang untuk produksi lampu LED.

Dengan demikian, baik reboisasi maupun daur ulang sebenarnya saling bersinergi dalam membangun lingkungan hidup yang sehat, serta memberikan nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga, apabila keduanya diterapkan, biaya produksi buku tidak akan terlalu banyak dan dengan saat yang bersamaan mampu menjulang kelangsungan ekosistem yang seimbang.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s