Kemerdekaan Konsumerisme

Kemerdekaan konsumerisme

Apabila muncul justifikasi publik bahwa manusia, terutama wanita adalah sasaran empuk dari program diskon yang memicu perilaku konsumerisme kronis, maka justifikasi tersebut pada dasarnya tidak bisa dijatuhkan secara generalis.

Setiap orang memiliki hak untuk hidup dan mengatur kehidupannya sesuai dengan apa yang diyakini. Kebebasan hak tersebut termasuk dalam membeli apa yang mereka suka dan inginkan. Terlepas dari pertimbangan konsep kebutuhan dan keinginan, perilaku konsumerisme manusia memiliki tipe yang berbeda sesuai dengan kepribadian dan caranya dalam memanfaatkan sebuah peluang. Karena konsumerisme adalah sesuatu yang bersifat personal, maka pada dasarnya tidak ada manusia yang dirugikan dengan perilaku tersebut, karena manusia menuai apa yang mereka tanam. Apalagi menyangkut perputaran ekonomi yang sangat rumit dan terkadang penuh strategi penjualan yang jitu.

Apabila masih meragukannya, mari kita cermati skenario di bawah ini,

Diskon 75% pun tidak menarik di mata beberapa orang.

Gadis itu berjalan di rimba pajangan pakaian warna-warni dengan aneka macam mode. Sesaat ia melirik kebaya batik yang anggun. Diatasnya terpampang tulisan “diskon 75%”. Beberapa detik kemudian gadis itu melenggang menuju deretan kaos mahal bermerek tidak jauh dari sana. Dibelakangnya tampak seorang perempuan paruh baya yang tersenyum lebar melihat tanda “diskon 75%”. Seketika perempuan berumur tersebut mempercepat jalannya menuju deretan kebaya.

Tidak ada yang aneh dalam skenario nyata tersebut. Perempuan muda memang cenderung menyukai kaos yang bermerk biarpun mahal. Sedangkan kalangan ibu-ibu lebih suka membeli dan mengenakan kebaya, apalagi dengan diskon yang menggiurkan. Setiap orang menentukan pilihannya masing-masing, sebab apa yang terjadi adalah hasil pengambilan keputusan individu tanpa campur tangan siapapun. Pakar ekonomi mengetahui apa yang kecenderungan dalam otak manusia saat skenario diatas terjadi. Sehingga, pada dasarnya skenario ‘diskon’ juga merupakan strategi penjualan oleh toko pakaian yang beredar karena mereka tahu persis cara menjual produknya kepada manusia dengan ragam kepribadian masing-masing.

Perilaku konsumtif

Consumptive behavior atau perilaku konsumsi adalah istilah yang digunakan bagi kecenderungan seseorang dalam membeli. Ada beberapa tipe dalam seni berbelanja yang terkadang atau mungkin sama sekali tidak disadari berkait erat dengan kepribadian seseorang untuk merelakan lembaran rupiah beralih dari tangannya.

  1. Pemburu Diskon

Bagi kalangan ini, diskon adalah ijin untuk membeli. “No discount, no buying”, hampir seperti itulah pemikiran mereka, sebab diskon adalah faktor terpenting dalam pengambilan keputusan konsumsi. Selain diskon faktor yang mirip adalah promo, bundel dan paket. Melissa Sturge Apple, professor di Universitas Rochester dalam penelitiannya mengatakan bahwa munculnya impuls untuk menikmati apa yang tidak biasanya tersedia adalah dikarenakan faktor keterbatasan sumber daya tersebut. “Dalam lingkungan yang terbatas seseorang akan segera memanfaatkan keuntungan yang ditawarkan” katanya. Apabila dikaitkan, sudah sinkron antara skenario di atas karena berbicara tentang diskon. Ibu-ibu  menunjukkan kecenderungan untuk segera memanfaatkan program potongan harga. Dengan membeli produk berdiskon, diharapkan sisa uangnya dapat digunakan untuk keperluan lain yang mendesak. Mereka yang termasuk golongan ini adalah orang-orang yang suka memanfaatkan peluang baik agar tidak terlepas dari genggaman. Uang yang mereka miliki sebenarnya memiliki jangka awet, dalam artian tidak digunakan dan masih utuh ketika diskon tidak ada. Akan tetapi, jika promo yang digencar-gencarkan terlampau banyak, mereka bisa menghabiskan seluruh uangnya hanya untuk melayani berbagai jenis diskon barang.

 

  1. Fashion adalah sekarang

Contoh nyata dari golongan ini adalah seorang gadis muda yang berada di skenario atas. Ia mengetahui kaos bermerk yang dilihat adalah tren sekarang. Jika kaos itu dipakainya, ia akan memikirkan dirinya yang akan terlihat trendy, sesuai jaman, fashionable, dan gaul. Ia tidak mempermasalahkan harga kaos bermerk yang secara umum dikenal sebagai barang mahal. Karen Zhang dalam jurnal management science menulis hasil penelitiannya tentang pengaruh harga pada perilaku pembeli. “Konsumen tidak mau mengalami rasa menyesal” ungkapnya. “Seseorang dapat saja menahan keinginan untuk membeli sesuatu, tapi rasa penyesalan akan muncul saat ia tahu jika ia membeli barang tersebut ia akan mendapatkan pengaruh positif”, kata Zhang. “Dan konsumen tidak sanggup untuk membayangkan hal yang tidak jelas, apakah barang itu masih ada untuknya saat ia kembali nanti atau barang tersebut sudah habis”, tambahnya. “Manusia tidak berpikir baik ketika menghadapi hal yang tidak pasti”, demikian kata Zhang dalam jurnal Ilmiah. Hal ini dimanfaatkan baik oleh pengusaha retail dan toko-toko untuk mengatur harga. Toko dapat menaikkan harga barang dan mengurangi stok dengan harapan pembeli akan takut jika kehabisan. Mereka yang termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang yang memegang teguh gaya kekinian dan sangat takut ketinggalan mode atau bahkan kehilangan kemampuan untuk mengikutinya.

 

  1. Logis

Perilaku logis merupakan perilaku yang paling baik diterapkan pada konsumen. Perilaku ini akan memaksa seseorang berpikir beberapa kali sebelum ia membeli. Pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah apa kegunaan barang tersebut? dan apakah ia mampu membelinya? Dalam skenario diatas belum terdapat contoh yang memberikan gambaran tentang perilaku ini, jadi, dapat ditambahkan  dengan bebas seorang tokoh anak laki-laki yang melihat diskon 75% untuk produk kebaya namun ia tidak tertarik. Kebaya memang tidak berguna baginya. Bagi beberapa orang diskon besar dapat mengalihkan faktor kegunaan misalnya dia membeli kebaya untuk ibu atau pacarnya. Ketika anak laki-laki tersebut melihat kaos dengan style yang bagus, dia akan berpikir dan ingat bahwa kaos kepunyaannya masih cukup baik untuk dikenakan. Walaupun kaosnya di rumah sudah ketinggalan jaman, tapi ia tidak mempermasalahkannya. Perilaku konsumsi ini memungkinkan seseorang mendapatkan apa yang benar-benar ia butuhkan dan ia mampu mendapatkannya. Perilaku logis sangat bagus diterapkan untuk konsumen tetapi perilaku ini tidak disenangi oleh para penjual. Dengan perilaku logis yang stabil, godaan atau strategi retail dan toko-toko yang cenderung menggoda untuk melupakan aspek ini pun dapat teratasi.

Oleh : Mahmudah Nurur Rohmah (134411017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s