Ramadhan : Dihayati atau Sekadar Ritual Tahunan?

Hoho.. post again.. betewe ini tulisan mimin buat tugas artikel di mata kuliah jurnalistik.. setelah baca ulang.. berantakan.. tapi mimin usahakan belajar nulis lebih banyak.. selamat menikmati yang bisa dinikmati.. 😂😂
Ramadhan adalah bulan ke-sembilan dalam penanggalan Hijriyyah yang dianggap suci oleh pemeluk agama Islam. Pada bulan tersebut, umat Islam menjalankan puasa, tarawih, tadarus, memperbanyak perbaikan diri untuk menyambut Nuzulul Quran (turunnya al-Quran) dan malam Lailatul Qadar.
Sebab kebesaran-kebesarannya itu, maka Ramadhan bisa disebut sebagai Syahrullah (Bulannya Allah), Syahrul Quran (Bulannya al-Quran) dan Syahrul Shiyam (Bulannya Puasa).
Berlomba dalam kebaikan
Bukan rahasia umum jika Ramadhan menjadi momen tahunan yang menjadikan seluruh umat Islam mulai menyadarkan diri dan berlomba di dalam kebaikan. Perlombaan yang bernilai positif itu disebabkan rasa memuliakan bulan Ramadhan yang hanya ada sebulan dalam setahun. Tidak hanya demikian, kesungguhan beribadah di bulan Ramadhan diharapkan dapat membawa pada kemenangan diri atas nafsu duniawi pada Idul Fitri di bulan selanjutnya.
Kebiasaan tahunan
Mendekati bulan Suci Ramadhan, masyarakat sudah dipastikan terlihat hiruk-pikuk membeli kebutuhan pokok sebagai persediaan sahur dan buka puasa selama Ramadhan. Tidak tanggung-tanggung, makanan yang disuguhkan seringkali terlihat lengkap dan istimewa.
Di dunia maya, masyarakat muslim juga banyak melakukan posting status, artikel, dan gambar berisikan kata-kata dakwah sebagai pengantar datangnya bulan suci yang sangat dinantikan.
Akan tetapi, kebiasaan dalam bermewah makanan di bulan suci Ramadhan menimbulkan gejolak tentang esensi menahan nafsu dalam berpuasa. Apakah menahan nafsu adalah hal yang dilakukan saat jam puasa masih berlangsung, ataukah pengendalian nafsu tersebut merupakan pembelajaran yang menyadarkan manusia untuk hidup sederhana agar bisa diterapkan pada kehidupan walaupun tidak sedang di bulan Ramadhan masih dipertanyakan saat melihat realita di lapangan.
Selain itu, dalih tentang tidurnya orang berpuasa adalah ibadah sering digunakan untuk kembali terlelap seusai menyantap hidangan sahur. Bahkan ada beberapa orang yang tidur sebelum melaksanakan shalat subuh dan bangun terlambat. Keterlambatan bangun bagi beberapa orang yang aktif bekerja di instansi atau lembaga yang mewajibkan untuk bekerja pada pagi hari mungkin hanya berkisar antara pukul 05:30-06:00. akan tetapi, beberapa orang yang tidak dituntut kewajiban seperti itu seringkali tertidur sampai tengah hari atau pukul 12:00. kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan ulang tentang esensi puasa dan pembelajaran apa yang dapat diambil dari berpuasa sebulan penuh. Akan tetapi, banyak diantara masyarakat menganggap hal demikian sebagai hal biasa yang tidak perlu dipersoalkan.
Penghayatan tidak maksimal
Seiring berjalannya waktu, secara sadar maupun tidak, banyak diantara pemeluk agama Islam beribadah dengan penghayatan yang kurang mendalam. Kebiasaan berpuasa dan ibadah lain di bulan tersebut dilakukan seperti ritual dan adat budaya yang harus dilaksanakan saja. Beberapa sekolah Islam memiliki kebiasaan menerbitkan buku monitoring ibadah untuk diisi oleh siswanya pada bulan Ramadhan. Alhasil, kebanyakan siswa remaja itu hanya melaksanakan ibadah karena kewajiban mengisi buku monitoring.
Beberapa orang tua juga mengalami krisis penghayatan yang sama. Hal itu disebabkan oleh kesibukan mereka dalam mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri yang akan datang. Bukan rahasia lagi apabila masjid di beberapa daerah akan penuh sesak pada waktu tarawih di minggu awal Ramadhan, kemudian jamaah berkurang banyak di pertengahan dan kembali terisi penuh di minggu akhir. Sebab, masyarakat sejak jauh-jauh hari sudah membuat daftar kebutuhan yang harus dibeli atau diperbaharui seperti pakaian, perabotan rumah, alat elektronik dan gadget keluaran terbaru. Lalu, bagaimana penghayatan dalam ibadan bisa dikesampingkan untuk hal semacam itu? Apakah ini wajar atau semacam indikasi tinggi-rendahnya tingkah laku konsumtif yang mengarah pada hedonisme global?
Mempermalukan diri atau bulan Ramadhan?
Apabila mayoritas masyarakat muslim setuju bahwa Ramadhan adalah ajang memperbaiki diri untuk kehidupan yang lebih baik, maka bukan kesalahan jika penghayatan ibadah tidak sekadar penghayatan saat melakukan saja. Akan tetapi, penghayatan ibadah diekstraksi menjadi sebuah prinsip ajaran kemajuan hidup yang aplikatif dalam tindak-tanduknya sebagai seorang hamba yang berakal dan beriman.
Dengan pemahaman tersebut, Ramadhan yang sudah dilewati dengan usaha terbaik tetap memberikan bekas kebaikan yang memunculkan harmonisasi diantara sesama makhluk hidup.
Dalam pandangan orang tua Jawa, menahan nafsu di bulan Ramadhan disamakan dengan istilah mengencangkan sabuk atau ikat pinggang. Secara umum dan sederhana, istilah mengencangkan disini diartikan sebagai menahan dalam perekonomian dengan hidup prihatin dan sederhana. Akan tetapi, arti mengencangkan bisa lebih luas dan lebih kompleks dari persepsi generalisnya.
Mengencangkan sabuk atau ikat pinggang dimaksudkan untuk hidup prihatin dan bersikap bijak dalam hal apapun. Contohnya, apakah perilaku A baik atau buruk, apokah hal B itu diperlukan atau sekadar diinginkan? Bagaimana mencapai kehidupan C tanpa mengganggu stabilitas hidup yang sudah dicapai, seperti itulah gambaran kasarnya.
Sama halnya dengan yang diajarkan oleh bulan Suci Ramadhan. Apabila sebagai hamba beriman yang dititipi akal oleh Sang Pencipta tidak mampu menerapkan salah satu ajaran puasa di bulan Ramadhan, bukan tidak mungkin jika perilaku kita di kemudian hari dianggap sebagai sikap mempermalukan diri sebagai manusia berakal atau mempermalukan Ramadhan yang dengan kemuliaan dan kesuciaannya sudah mengajarkan kebijaksaan yang ternyata tidak ditangkap dan diamalkan oleh manusia yang mensucikannya.
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s