Anime : Metode Pembelajaran Baru (?)

Di kalangan remaja Indonesia, anime tidak lagi menjadi istilah asing yang dipertanyakan. Istilah yang digunakan untuk menyebut animasi khas dari Negeri Sakura, Jepang tersebut sudah akrab di telinga, bahkan beberapa penggemarnya yang disebut Otaku bersikukuh animasi tersebut memiliki perbedaan dengan istilah kartun, yang bagi masyarakat luas cenderung disamakan tanpa melihat substansi perbedaannya terlebih dahulu.
Beberapa tahun ini, jumlah tayangan anime di pertelevisian Indonesia menurun jika dibandingkan dengan era 90-an dan awal 2000-an. Dulu, beberapa judul anime seperti Sailormoon, Saint Seiya, Gundam dan Digimon banyak ditayangkan beberapa stasiun televise swasta setiap sore dan hari minggu sejak pagi hingga siang hari.
Beberapa pihak menduga penurunan jumlah tayangan itu disebabkan oleh otoritas KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang berdalih bahwa anime mengandung unsur pornografi dan kekerasan yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak. Dalih KPI tersebut langsung menuai kontra dari Otaku yang masih setia dengan hobinya walaupun harus menempuh jalan lain untuk menonton anime seperti streaming online atau download dari link tertentu.
Menurut para Otaku, tidak semua anime mengandung hal yang dituduhkan oleh KPI. Selain itu, penghapusan anime di televise bukan jadi solusi yang tepat, karena walaupun anime dihapus, anak-anak akan terpaksa menonton tayangan sinetron yang dianggap kurang berkualitas karena jalan ceritanya yang selalu percintaan dan model kehidupan hedonis yang sering dimunculkan. Apalagi bertebaran sinetron-sinetron yang menggunakan latar sekolah lengkap dengan seragam yang dikenakan tapi perilaku tokoh utamanya sangat tidak patut untuk ditiru.
Penilaian subjektif dari kedua pihak di atas tidak bisa langsung disimpulkan mana yang benar atau salah secara absolut. Karena kembali pada sifat subjektifitas, penilaian yang tidak mengikuti kaidah objektif atau disebut subjektif masih mengandung perasaan atau pikiran sendiri, apalagi jika pandangan tersebut memiliki semacam kepentingan yang harus diperjuangkan secara personal maupun kelompok.
Terlepas dari pertentangan KPI dan Otaku tentang penghapusan anime dari televisi Negeri, akhir-akhir ini beberapa kartun juga mengalami dampak pengetatan sistem KPI dengan adanya sensor blur yang berlebihan pada tokoh dan adegan tertentu.
Seperti film dan tayangan lain, anime memiliki pembagian genre dan rating usia penonton yang banyak ditemukan pada web atau blog penyedia layanan download link atau sekadar penguraian informasi seperti jenis, sinopsis, dan waktu release yang sering ditunggu oleh penggemarnya. Di negeri asalnya Jepang, ada jam penanyangan tengah malam untuk anime atau film lain yang belum sepatutnya ditonton oleh anak-anak. Pemilihan waktu tengah malam didasari oleh pertimbangan anak-anak sudah terlelap tidur. Berbeda dengan Indonesia yang menaruhnya pada jam berangkat sekolah atau waktu belajar sore.
Berbicara tentang anime, apa yang membuatnya jadi salah satu tayangan favorit bagi kebanyakan anak-anak dan remaja? Hal ini bisa dijawab apabila sang penanya mencoba untuk melihat langsung bagaimana isi anime tersebut secara langsung.
Bukan rahasia jika seorang mangaka (orang yang menggambar manga atau komik) atau penulis novel yang karya manga-nya atau novelnya diadaptasi menjadi anime adalah orang yang sudah dewasa, walaupun tidak mengesampingkan fakta bahwa ada beberapa remaja yang mulai menggeluti bidang seni tersebut. Karena sang kreator adalah seseorang yang sudah dewasa dan menginginkan sebuah karya berkualitas yang bisa dinikmati, maka mereka belajar dan menggali beberapa aspek sejarah maupun pengetahuan umum untuk dimasukkan ke dalam unsur karya yang dibuatnya.
Karena alasan tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa anime yang mengandung pelajaran sehingga cocok untuk menjadi media pembelajaran baru yang santai tetapi efektif. Contohkan saja sebuah anime berjudul Fate/Stay Night dan Fate/Zero, dari anime tersebut saja, anak-anak dan remaja sedikit banyak mengenal nama pahlawan atau penjahat dalam sejarah atau legenda dunia seperti King Arthur, Gilles de Rais, Gilgamesh, Alexander the Great dan Hassan I Sabbah.
Selain itu, banyak anime yang mengajarkan hal berguna bagi perkembangan anak dan remaja seperti persahabatan, keberanian, membela yang lemah dan menegakkan kebenaran lewat kata-kata bijak yang terselip pada dialog tokohnya. Contohnya dalam anime Kuroshitsuji (Black Butler), salah satu tokohnya, Ciel Phantomhive kurang lebih mengatakan ketika manusia masuk dalam kesulitan atau keputus asaan dan hanya ada seutas benang laba-laba yang terulur untuk keluar dari penderitaan itu, maka ia tetap berusaha untuk memanjatnya.
Dengan pertimbangan tersebut, beberapa remaja dan anak-anak memilih untuk menonton anime sebagai media pembelajaran baru yang menyenangkan. Walaupun substansi ajaran dalam anime belum tentu berguna di dunia akademis, tetapi perlu diingat kembali tujuan dari belajar terkait aplikasi keseharian yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup bermasyarakat sebagai manusia yang beradab, berprinsip dan bervisi.
Pendapat tersebut bagi kebanyakan orang tua bukanlah sesuatu yang bisa diterima seperti halnya alasan anak-anak yang belajar bahasa Inggris menggunakan media game. Sebab, banyak orang tua yang belum mengerti tentang kecocokan serta kenyamanan seorang anak dengan media belajar yang diterapkan. Sebab dalam teori psikologi, ada tiga tipe belajar yang sering dijadikan patokan dalam memahami sesuatu berdasarkan indera yang mendominasi, yaitu auditori dengan pendengaran telinga, visual dengan penglihatan mata dan kinestetik dengan sentuhan kulit.
Walaupun terlihat seperti permainan yang tidak berbobot, tetapi prinsip yang mengatakan bahwa ilmu dapat didapat darimana saja serta apapun dan siapapun dapat menjadi guru bukanlah sebuah kebohongan bila manusia mampu mengambil inti ajaran yang diselipkan oleh sang kreator.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s