Antara Buku dan Go Green

“Buku adalah jendela dunia”, demikian slogan dari berbagai program peningkatan minat baca yang sering diungkap dalam dunia pendidikan.

Kebiasaan membaca dianjurkan sebagai sebuah kegiatan positif yang berguna untuk mengasah intelektualitas dan memperkaya kosakata, terutama bagi kaum pelajar berbagai tingkat yang masih berkembang.

Ebook produk modernitas

Perkembangan zaman membuat manusia harus melakukan adaptasi terhadap globalisasi dan modernitas, terutama perkembangan internet beserta perangkat aksesnya.

Perkembangan dunia informasi dan teknologi juga melakukan evolusi terhadap buku cetak dengan alasan harga yang lebih murah, ramah lingkungan, dan praktis.

Produk Ebook (electronic book) atau buku yang dikemas secara digital menjadi sebuah trend baru yang sangat memudahkan manusia untuk membaca dimanapun dan kapanpun. Sebab Ebook memiliki beberapa kelebihan yang tidak ditemukan pada buku cetak. Seperti ukurannya yang sangat kecil, harga murah, perawatan yang mudah, serta ramah lingkungan.

Reboisasi lambat, harga kertas melambung

Kebutuhan besar terhadao kertas menjadi salah satu faktor terancamnya ekosistem hutan. Karena, peroduksi kertas  membutuhkan serat kayu yang mengadung zat seperti selulosa dan hemiselulosa.

Apabila penebangan pohon dan reboisasi tidak dilakukan secara imbang, produsen kertas dapat mengalami masalah dalam menemukan bahan baku yang berakibat melambungnya harga kertas di kemudian hari. Peningkatan harga kertas tentu mempengaruhi harga jual buku yang meninggi dan daya beli masyarakat yang cenderung melemah.

Fenomena meningginya harga kertas dan buku menjadikan banyak pihak melakukan transformasi media cetak ke media digital. Langkah ini dianggap sebagai solusi agar tidak terjadi kerusakan ekosistem dan kepunahan dini.

Tetapi, penyelesaian dengan metode transformasi menimbulkan kepanikan tersendiri bagi beberapa perusahaan cetak. Pasalnya, transformasi digital berkemungkinan menjadi faktor penurunan order dan ancaman  pailit.

Buku cetak masih primadona

Terlepas dari pro-kontra mengenai buku dan aksi penghijauan atau go green, buku cetak masih menjadi primadona bagi beberapa kalangan. Bahkan, dalam sistem pendidikan buku cetak menjadi media utama dalam pembelajaran, terutama di jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Penggunaan buku cetak di jenjang tersebut berkaitan dengan pengembangan skill dalam menulis, memahami dan mengorganisir catatan. Selain itu, kegiatan menulis di lembaran cetak atau kertas menumbuhkan kreativitas di bidang seni seperti kaligrafi, ideografi, dan menggambar sketsa.

Berbeda dengan jenjang TK-SMA, di jenjang kuliah, buku cetak lebih banyak digunakan sebagai referensi untuk membuat tugas-tugas perkuliahan. Walaupun Ebook sudah banyak diterbitkan oleh beberapa kalangan, namun beberapa dosen di universitas tertentu masih menetapkan kebijakan bahwa referensi yang utama dan dapat dipertanggungjawabkan adalah buku cetak. Kebijakan tersebut didasarkan pada hak paten dan pengakuan sumber secara akademis.

Meskipun buku cetak lebih banyak digunakan dalam dunia pendidikan, tapi tidak mengubah fakta bahwa sebagian masyarakat masih menggemari buku cetak sebagai media wacana. Pemilihan ini lebih didasarkan pada kepraktisan buku yang tidak memerlukan perangkat tertentu untuk membacanya. Selain itu, buku cetak dapat digunakan untuk menghiasi sudut-sudut rumah agar kesan estetikanya bertambah.

Kepuasan dalam memiliki buku cetak pun berbeda dengan Ebook. Beberapa orang mengaku bangga ketika memiliki banyak koleksi buku cetak, apalagi jika seluruh koleksinya sudah selesai dibaca dengan seksama.

Solusi : Go green dan daur ulang (?)

Penilaian tentang lebih baik mana antara buku cetak dan Ebook bukanlah sesuatu yang harus diperdebatkan. Sebab, segala sesuatu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Adapun pro-kontra tentang buku cetak dan aksi penghijauan atau go green  tidak akan menemukan titik akhir apabila kesadaran per-individu tidak ditumbuhkan dan diaplikasikan pada media yang konkret.

Program seperti satu orang satu pohon sebenarnya sangat membantu jika terealisasi dengan baik. Akan tetapi, minimnya lahan untuk menanam menjadi masalah lain yang harus ditangani dan ditemukan penyelesaiannya.

Cara lain yang dapat membantu program reboisasi dan pengadaan kertas adalah daur ulang karena dianggap sebagai sebuah solusi. Seperti yang diketahui, kertas terbuat dari serat kayu yang merupakan bahan alami sehingga dapat diperbaharui.

Namun, program daur ulang belum bisa teralisasi secara optimal dikarenakan pengolahan sampah yang belum terorganisisr dengan baik.

Berkaca pada Negara maju seperti Jepang, daur ulang memiliki dampak positif bagi perekonomian dan kebersihan lingkungan. Contoh kecilnya pada daur ulang lampu neon yang dapat memisahkan zat fosfor yang seharusnya tidak dibuang sembarangan. Zat fosfor yang sudah dipisahkan kemudian digunakan untuk keperluan industry lain. sama halnya dengan kaca neonnya yang beberapa persennya digunakan ulang untuk produksi lampu LED.

Dengan demikian, baik reboisasi maupun daur ulang sebenarnya saling bersinergi dalam membangun lingkungan hidup yang sehat, serta memberikan nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga, apabila keduanya diterapkan, biaya produksi buku tidak akan terlalu banyak dan dengan saat yang bersamaan mampu menjulang kelangsungan ekosistem yang seimbang.

 

 

Krisis Kemandirian Pelajar

Belajar di sebuah lembaga pendidikan merupakan salah satu syarat untuk mendapat pengakuan akademik secara resmi dan formal. pengakuan tersebut ditunjukkan dengan ijazah kelulusan yang diberikan pada akhir periode jenjang pendidikan yang ditempuh.

Dalam perjalanannya, pelajar yang merupakan fokus utama pendidikan menjadi semacam tumpuan harapan untuk berkembang sebagai manusia yang berguna dan dapat membenahi aspek kehidupan yang dirasa perlu agar manfaat dan kebaikannya dapat dirasakan oleh dirinya secara personal dan seluruh lapisan maksyarakat.

Mensejahterakan masyarakat lewat jalur pendidikan dinilai perlu untuk menumbuhkan dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk bertahan hidup dalam  realita yang alurnya tidak semanis novel atau sinetron percintaan.

Namun, dunia pendidikan seakan ditantang oleh krisis kemandirian pelajar yang intensitas tahunannya semakin bertambah.

Krisis kemandirian seperti kemalasan dan sikap pelajar yang tidak jujur dalam mengerjakan tugas menjadi ancaman tersendiri bagi keberhasilan sistem pendidikan.

Tantangan dan ancaman

Perkembangan internet pada era globalisasi diharapkan menjadi media belajar tambahan terkadang disalahgunakan oleh beberapa pelajar. Kasus yang sering terjadi dalam hal ini adalah ‘copy-paste’ atau menyalin dan menempelkan artikel atau karya orang lain yang diunggah di website atau blog tertentu untuk memenuhi tugas sekolahnya.

Tidak hanya itu, banyak kaum pelajar yang kurang menyadari pentingnya kerjasama kelompok. Dalam kerja kelompok, biasanya pelajar dibagi menjadi dua tipe pekerja, mereka yang menyadari tanggungjawab dan berusaha untuk memenuhinya bersama teman sekelompok, dan mereka yang memiliki kesadaran rendah akan tanggungjawab dan bergantung pada temannya yang serius mengerjakan tugas tersebut.

Kemalasan yang ditunjukkan oleh pelajar yang sering menumpang nama untuk mendapatkan nilai dalam tugas kelompok bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kurangnya kepercayaan diri dengan kemampuannya, kurangnya kepercayaan dari teman sekelompoknya, atau ketidakpedulian sebab merasa sudah tercover oleh teman-temannya.

Sikap dan perilaku yang demikian tidak hanya berdampak pada stagnasi kreativitas dan kemandirian pelajar dalam menanggung beban tanggung jawab akademisnya, akan tetapi lebih pada pembiasaan untuk melakukan manipulasi tanpa pembelajaran serius.

Akibatnya, tujuan lain dari pendidikan yang ingin mencetak generasi penerus yang bervisi dan dapat mengemban amanat untuk kemajuan Bangsa dan Negara kembali terancam gagal.

Kebangkitan mentalitas Pelajar

Penanganan fenomena krisis kemandirian seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa ditangani menggunakan jalan kekerasan atau pengetatan sistem pendidikan secara paksa. Karena, bercermin pada kenyataan yang ada, beredar berita seperti seorang mahasiswa yang membunuh dosennya, orang tua pelajar yang memenjarakan guru anak-anaknya, dan kekerasan antar sesama pelajar. Berita-berita tersebut memperlihatkan dengan jelas bahwa aspek personal yang perlu ditangani dengan seksama adalah mentalitas pelajar yang semakin lama semakin rendah.

Apabila mentalitas pelajar yang bermasalah itu tinggi, maka ia tidak akan mengambil jalan membunuh, akan tetapi mengembangakn strategi problem solving untuk menghadapi masalahnya, bukan lari darinya.

Tidak hanya itu, pengembangan spiritualitas pada diri pelajar juga harus dilakukan untuk menumbuhkan sikap bertanggung jawab melalui kewajiban ibadah yang harus ditempuh. Dengan menyadari kewajibannya untuk beribadah kepada Tuhan, ia akan memiliki rasa malu, atau minimal kegelisahan saat mulai melenceng dari jalur yang benar.

 

 

Kemerdekaan Konsumerisme

Kemerdekaan konsumerisme

Apabila muncul justifikasi publik bahwa manusia, terutama wanita adalah sasaran empuk dari program diskon yang memicu perilaku konsumerisme kronis, maka justifikasi tersebut pada dasarnya tidak bisa dijatuhkan secara generalis.

Setiap orang memiliki hak untuk hidup dan mengatur kehidupannya sesuai dengan apa yang diyakini. Kebebasan hak tersebut termasuk dalam membeli apa yang mereka suka dan inginkan. Terlepas dari pertimbangan konsep kebutuhan dan keinginan, perilaku konsumerisme manusia memiliki tipe yang berbeda sesuai dengan kepribadian dan caranya dalam memanfaatkan sebuah peluang. Karena konsumerisme adalah sesuatu yang bersifat personal, maka pada dasarnya tidak ada manusia yang dirugikan dengan perilaku tersebut, karena manusia menuai apa yang mereka tanam. Apalagi menyangkut perputaran ekonomi yang sangat rumit dan terkadang penuh strategi penjualan yang jitu.

Apabila masih meragukannya, mari kita cermati skenario di bawah ini,

Diskon 75% pun tidak menarik di mata beberapa orang.

Gadis itu berjalan di rimba pajangan pakaian warna-warni dengan aneka macam mode. Sesaat ia melirik kebaya batik yang anggun. Diatasnya terpampang tulisan “diskon 75%”. Beberapa detik kemudian gadis itu melenggang menuju deretan kaos mahal bermerek tidak jauh dari sana. Dibelakangnya tampak seorang perempuan paruh baya yang tersenyum lebar melihat tanda “diskon 75%”. Seketika perempuan berumur tersebut mempercepat jalannya menuju deretan kebaya.

Tidak ada yang aneh dalam skenario nyata tersebut. Perempuan muda memang cenderung menyukai kaos yang bermerk biarpun mahal. Sedangkan kalangan ibu-ibu lebih suka membeli dan mengenakan kebaya, apalagi dengan diskon yang menggiurkan. Setiap orang menentukan pilihannya masing-masing, sebab apa yang terjadi adalah hasil pengambilan keputusan individu tanpa campur tangan siapapun. Pakar ekonomi mengetahui apa yang kecenderungan dalam otak manusia saat skenario diatas terjadi. Sehingga, pada dasarnya skenario ‘diskon’ juga merupakan strategi penjualan oleh toko pakaian yang beredar karena mereka tahu persis cara menjual produknya kepada manusia dengan ragam kepribadian masing-masing.

Perilaku konsumtif

Consumptive behavior atau perilaku konsumsi adalah istilah yang digunakan bagi kecenderungan seseorang dalam membeli. Ada beberapa tipe dalam seni berbelanja yang terkadang atau mungkin sama sekali tidak disadari berkait erat dengan kepribadian seseorang untuk merelakan lembaran rupiah beralih dari tangannya.

  1. Pemburu Diskon

Bagi kalangan ini, diskon adalah ijin untuk membeli. “No discount, no buying”, hampir seperti itulah pemikiran mereka, sebab diskon adalah faktor terpenting dalam pengambilan keputusan konsumsi. Selain diskon faktor yang mirip adalah promo, bundel dan paket. Melissa Sturge Apple, professor di Universitas Rochester dalam penelitiannya mengatakan bahwa munculnya impuls untuk menikmati apa yang tidak biasanya tersedia adalah dikarenakan faktor keterbatasan sumber daya tersebut. “Dalam lingkungan yang terbatas seseorang akan segera memanfaatkan keuntungan yang ditawarkan” katanya. Apabila dikaitkan, sudah sinkron antara skenario di atas karena berbicara tentang diskon. Ibu-ibu  menunjukkan kecenderungan untuk segera memanfaatkan program potongan harga. Dengan membeli produk berdiskon, diharapkan sisa uangnya dapat digunakan untuk keperluan lain yang mendesak. Mereka yang termasuk golongan ini adalah orang-orang yang suka memanfaatkan peluang baik agar tidak terlepas dari genggaman. Uang yang mereka miliki sebenarnya memiliki jangka awet, dalam artian tidak digunakan dan masih utuh ketika diskon tidak ada. Akan tetapi, jika promo yang digencar-gencarkan terlampau banyak, mereka bisa menghabiskan seluruh uangnya hanya untuk melayani berbagai jenis diskon barang.

 

  1. Fashion adalah sekarang

Contoh nyata dari golongan ini adalah seorang gadis muda yang berada di skenario atas. Ia mengetahui kaos bermerk yang dilihat adalah tren sekarang. Jika kaos itu dipakainya, ia akan memikirkan dirinya yang akan terlihat trendy, sesuai jaman, fashionable, dan gaul. Ia tidak mempermasalahkan harga kaos bermerk yang secara umum dikenal sebagai barang mahal. Karen Zhang dalam jurnal management science menulis hasil penelitiannya tentang pengaruh harga pada perilaku pembeli. “Konsumen tidak mau mengalami rasa menyesal” ungkapnya. “Seseorang dapat saja menahan keinginan untuk membeli sesuatu, tapi rasa penyesalan akan muncul saat ia tahu jika ia membeli barang tersebut ia akan mendapatkan pengaruh positif”, kata Zhang. “Dan konsumen tidak sanggup untuk membayangkan hal yang tidak jelas, apakah barang itu masih ada untuknya saat ia kembali nanti atau barang tersebut sudah habis”, tambahnya. “Manusia tidak berpikir baik ketika menghadapi hal yang tidak pasti”, demikian kata Zhang dalam jurnal Ilmiah. Hal ini dimanfaatkan baik oleh pengusaha retail dan toko-toko untuk mengatur harga. Toko dapat menaikkan harga barang dan mengurangi stok dengan harapan pembeli akan takut jika kehabisan. Mereka yang termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang yang memegang teguh gaya kekinian dan sangat takut ketinggalan mode atau bahkan kehilangan kemampuan untuk mengikutinya.

 

  1. Logis

Perilaku logis merupakan perilaku yang paling baik diterapkan pada konsumen. Perilaku ini akan memaksa seseorang berpikir beberapa kali sebelum ia membeli. Pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah apa kegunaan barang tersebut? dan apakah ia mampu membelinya? Dalam skenario diatas belum terdapat contoh yang memberikan gambaran tentang perilaku ini, jadi, dapat ditambahkan  dengan bebas seorang tokoh anak laki-laki yang melihat diskon 75% untuk produk kebaya namun ia tidak tertarik. Kebaya memang tidak berguna baginya. Bagi beberapa orang diskon besar dapat mengalihkan faktor kegunaan misalnya dia membeli kebaya untuk ibu atau pacarnya. Ketika anak laki-laki tersebut melihat kaos dengan style yang bagus, dia akan berpikir dan ingat bahwa kaos kepunyaannya masih cukup baik untuk dikenakan. Walaupun kaosnya di rumah sudah ketinggalan jaman, tapi ia tidak mempermasalahkannya. Perilaku konsumsi ini memungkinkan seseorang mendapatkan apa yang benar-benar ia butuhkan dan ia mampu mendapatkannya. Perilaku logis sangat bagus diterapkan untuk konsumen tetapi perilaku ini tidak disenangi oleh para penjual. Dengan perilaku logis yang stabil, godaan atau strategi retail dan toko-toko yang cenderung menggoda untuk melupakan aspek ini pun dapat teratasi.

Oleh : Mahmudah Nurur Rohmah (134411017)

Pengantar Redaksi

Tetaplah kuat kawan

Kalender menunjukkan kita berada di pertengahan tahun 2016. Bulan-bulan ini bertepatan pula dengan bulan puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Tidak lama lagi kita juga akan merayakan hari ulang tahun kemerdekaan republik indonesia. Semua peristiwa ini terjadi berurutan dalam waktu yang singkat. Rakyat indonesia sedang sibuk.

Pemerintahan menyikapi kesibukan ini dengan mengatur segala sesuatu untuk kepentingan rakyatnya. Pasar murah diadakan untuk menekan kenaikan harga kebutuhan rakyat. Jalan-jalan diperbaiki mengantisipasi membludaknya lalu lintas menjelang hari-hari penting. Semua sedang sibuk.

Tidak perlu disebutkan pula pihak pihak yang selalu sedang menyibukkan diri di segala situasi. Para pakar hukum dan politikus mencari cara dan celah untuk menyatakan tujuannya. Argumentasi dan protes dilontarkan seakan rakyat masih sempat memperhatikan di sela-sela kesibukan mereka.

Seperti tidak tahu kondisi masyarakat indonesia, alam pun ikut merengek meminta perhatian kita. Banjir terjadi dimana-mana. Air laut menggenangi daratan. Tanah yang basah diguyur hujan longsor dan merenggut korban. Alam tidak bisa disalahkan. Ia berjalan sesuai hukum yang eksak demikian kata ilmuwan. Kaum agamawan tidak kalah dengan bersuara lantang “jangan melanggar sunnatullah”.

Disini kami ikut berpartisipasi. Bukan untuk menambah kesibukan para pembaca, tetapi untuk meringankan beban pikiran anda. Mungkin satu atau beberapa tulisan kami berguna bagi masyarakat. Siapa tahu anda tersenyum membaca tulisan kami. Bahkan semoga anda ikut tergerak dan terinspirasi secara positif, itulah harapan kami.

Tidak lupa tim redaksi memanjatkan doa. Semoga rakyat indonesia kuat. Semoga kita teguh menjalani ujian kesibukan dan godaan alam yang datang. Semoga ikatan erat dengan alam terwujud sebagai keseimbangan kehidupan di muka bumi. Siapa tahu air laut itu mengingatkan kita untuk selalu menjaga kemanjaan alam. Jangan sampai mereka murka karena berat akibatnya. Tetaplah kuat kawan!

Ramadhan : Dihayati atau Sekadar Ritual Tahunan?

Hoho.. post again.. betewe ini tulisan mimin buat tugas artikel di mata kuliah jurnalistik.. setelah baca ulang.. berantakan.. tapi mimin usahakan belajar nulis lebih banyak.. selamat menikmati yang bisa dinikmati.. 😂😂
Ramadhan adalah bulan ke-sembilan dalam penanggalan Hijriyyah yang dianggap suci oleh pemeluk agama Islam. Pada bulan tersebut, umat Islam menjalankan puasa, tarawih, tadarus, memperbanyak perbaikan diri untuk menyambut Nuzulul Quran (turunnya al-Quran) dan malam Lailatul Qadar.
Sebab kebesaran-kebesarannya itu, maka Ramadhan bisa disebut sebagai Syahrullah (Bulannya Allah), Syahrul Quran (Bulannya al-Quran) dan Syahrul Shiyam (Bulannya Puasa).
Berlomba dalam kebaikan
Bukan rahasia umum jika Ramadhan menjadi momen tahunan yang menjadikan seluruh umat Islam mulai menyadarkan diri dan berlomba di dalam kebaikan. Perlombaan yang bernilai positif itu disebabkan rasa memuliakan bulan Ramadhan yang hanya ada sebulan dalam setahun. Tidak hanya demikian, kesungguhan beribadah di bulan Ramadhan diharapkan dapat membawa pada kemenangan diri atas nafsu duniawi pada Idul Fitri di bulan selanjutnya.
Kebiasaan tahunan
Mendekati bulan Suci Ramadhan, masyarakat sudah dipastikan terlihat hiruk-pikuk membeli kebutuhan pokok sebagai persediaan sahur dan buka puasa selama Ramadhan. Tidak tanggung-tanggung, makanan yang disuguhkan seringkali terlihat lengkap dan istimewa.
Di dunia maya, masyarakat muslim juga banyak melakukan posting status, artikel, dan gambar berisikan kata-kata dakwah sebagai pengantar datangnya bulan suci yang sangat dinantikan.
Akan tetapi, kebiasaan dalam bermewah makanan di bulan suci Ramadhan menimbulkan gejolak tentang esensi menahan nafsu dalam berpuasa. Apakah menahan nafsu adalah hal yang dilakukan saat jam puasa masih berlangsung, ataukah pengendalian nafsu tersebut merupakan pembelajaran yang menyadarkan manusia untuk hidup sederhana agar bisa diterapkan pada kehidupan walaupun tidak sedang di bulan Ramadhan masih dipertanyakan saat melihat realita di lapangan.
Selain itu, dalih tentang tidurnya orang berpuasa adalah ibadah sering digunakan untuk kembali terlelap seusai menyantap hidangan sahur. Bahkan ada beberapa orang yang tidur sebelum melaksanakan shalat subuh dan bangun terlambat. Keterlambatan bangun bagi beberapa orang yang aktif bekerja di instansi atau lembaga yang mewajibkan untuk bekerja pada pagi hari mungkin hanya berkisar antara pukul 05:30-06:00. akan tetapi, beberapa orang yang tidak dituntut kewajiban seperti itu seringkali tertidur sampai tengah hari atau pukul 12:00. kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan ulang tentang esensi puasa dan pembelajaran apa yang dapat diambil dari berpuasa sebulan penuh. Akan tetapi, banyak diantara masyarakat menganggap hal demikian sebagai hal biasa yang tidak perlu dipersoalkan.
Penghayatan tidak maksimal
Seiring berjalannya waktu, secara sadar maupun tidak, banyak diantara pemeluk agama Islam beribadah dengan penghayatan yang kurang mendalam. Kebiasaan berpuasa dan ibadah lain di bulan tersebut dilakukan seperti ritual dan adat budaya yang harus dilaksanakan saja. Beberapa sekolah Islam memiliki kebiasaan menerbitkan buku monitoring ibadah untuk diisi oleh siswanya pada bulan Ramadhan. Alhasil, kebanyakan siswa remaja itu hanya melaksanakan ibadah karena kewajiban mengisi buku monitoring.
Beberapa orang tua juga mengalami krisis penghayatan yang sama. Hal itu disebabkan oleh kesibukan mereka dalam mempersiapkan Hari Raya Idul Fitri yang akan datang. Bukan rahasia lagi apabila masjid di beberapa daerah akan penuh sesak pada waktu tarawih di minggu awal Ramadhan, kemudian jamaah berkurang banyak di pertengahan dan kembali terisi penuh di minggu akhir. Sebab, masyarakat sejak jauh-jauh hari sudah membuat daftar kebutuhan yang harus dibeli atau diperbaharui seperti pakaian, perabotan rumah, alat elektronik dan gadget keluaran terbaru. Lalu, bagaimana penghayatan dalam ibadan bisa dikesampingkan untuk hal semacam itu? Apakah ini wajar atau semacam indikasi tinggi-rendahnya tingkah laku konsumtif yang mengarah pada hedonisme global?
Mempermalukan diri atau bulan Ramadhan?
Apabila mayoritas masyarakat muslim setuju bahwa Ramadhan adalah ajang memperbaiki diri untuk kehidupan yang lebih baik, maka bukan kesalahan jika penghayatan ibadah tidak sekadar penghayatan saat melakukan saja. Akan tetapi, penghayatan ibadah diekstraksi menjadi sebuah prinsip ajaran kemajuan hidup yang aplikatif dalam tindak-tanduknya sebagai seorang hamba yang berakal dan beriman.
Dengan pemahaman tersebut, Ramadhan yang sudah dilewati dengan usaha terbaik tetap memberikan bekas kebaikan yang memunculkan harmonisasi diantara sesama makhluk hidup.
Dalam pandangan orang tua Jawa, menahan nafsu di bulan Ramadhan disamakan dengan istilah mengencangkan sabuk atau ikat pinggang. Secara umum dan sederhana, istilah mengencangkan disini diartikan sebagai menahan dalam perekonomian dengan hidup prihatin dan sederhana. Akan tetapi, arti mengencangkan bisa lebih luas dan lebih kompleks dari persepsi generalisnya.
Mengencangkan sabuk atau ikat pinggang dimaksudkan untuk hidup prihatin dan bersikap bijak dalam hal apapun. Contohnya, apakah perilaku A baik atau buruk, apokah hal B itu diperlukan atau sekadar diinginkan? Bagaimana mencapai kehidupan C tanpa mengganggu stabilitas hidup yang sudah dicapai, seperti itulah gambaran kasarnya.
Sama halnya dengan yang diajarkan oleh bulan Suci Ramadhan. Apabila sebagai hamba beriman yang dititipi akal oleh Sang Pencipta tidak mampu menerapkan salah satu ajaran puasa di bulan Ramadhan, bukan tidak mungkin jika perilaku kita di kemudian hari dianggap sebagai sikap mempermalukan diri sebagai manusia berakal atau mempermalukan Ramadhan yang dengan kemuliaan dan kesuciaannya sudah mengajarkan kebijaksaan yang ternyata tidak ditangkap dan diamalkan oleh manusia yang mensucikannya.
 

Anime : Metode Pembelajaran Baru (?)

Di kalangan remaja Indonesia, anime tidak lagi menjadi istilah asing yang dipertanyakan. Istilah yang digunakan untuk menyebut animasi khas dari Negeri Sakura, Jepang tersebut sudah akrab di telinga, bahkan beberapa penggemarnya yang disebut Otaku bersikukuh animasi tersebut memiliki perbedaan dengan istilah kartun, yang bagi masyarakat luas cenderung disamakan tanpa melihat substansi perbedaannya terlebih dahulu.
Beberapa tahun ini, jumlah tayangan anime di pertelevisian Indonesia menurun jika dibandingkan dengan era 90-an dan awal 2000-an. Dulu, beberapa judul anime seperti Sailormoon, Saint Seiya, Gundam dan Digimon banyak ditayangkan beberapa stasiun televise swasta setiap sore dan hari minggu sejak pagi hingga siang hari.
Beberapa pihak menduga penurunan jumlah tayangan itu disebabkan oleh otoritas KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) yang berdalih bahwa anime mengandung unsur pornografi dan kekerasan yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak. Dalih KPI tersebut langsung menuai kontra dari Otaku yang masih setia dengan hobinya walaupun harus menempuh jalan lain untuk menonton anime seperti streaming online atau download dari link tertentu.
Menurut para Otaku, tidak semua anime mengandung hal yang dituduhkan oleh KPI. Selain itu, penghapusan anime di televise bukan jadi solusi yang tepat, karena walaupun anime dihapus, anak-anak akan terpaksa menonton tayangan sinetron yang dianggap kurang berkualitas karena jalan ceritanya yang selalu percintaan dan model kehidupan hedonis yang sering dimunculkan. Apalagi bertebaran sinetron-sinetron yang menggunakan latar sekolah lengkap dengan seragam yang dikenakan tapi perilaku tokoh utamanya sangat tidak patut untuk ditiru.
Penilaian subjektif dari kedua pihak di atas tidak bisa langsung disimpulkan mana yang benar atau salah secara absolut. Karena kembali pada sifat subjektifitas, penilaian yang tidak mengikuti kaidah objektif atau disebut subjektif masih mengandung perasaan atau pikiran sendiri, apalagi jika pandangan tersebut memiliki semacam kepentingan yang harus diperjuangkan secara personal maupun kelompok.
Terlepas dari pertentangan KPI dan Otaku tentang penghapusan anime dari televisi Negeri, akhir-akhir ini beberapa kartun juga mengalami dampak pengetatan sistem KPI dengan adanya sensor blur yang berlebihan pada tokoh dan adegan tertentu.
Seperti film dan tayangan lain, anime memiliki pembagian genre dan rating usia penonton yang banyak ditemukan pada web atau blog penyedia layanan download link atau sekadar penguraian informasi seperti jenis, sinopsis, dan waktu release yang sering ditunggu oleh penggemarnya. Di negeri asalnya Jepang, ada jam penanyangan tengah malam untuk anime atau film lain yang belum sepatutnya ditonton oleh anak-anak. Pemilihan waktu tengah malam didasari oleh pertimbangan anak-anak sudah terlelap tidur. Berbeda dengan Indonesia yang menaruhnya pada jam berangkat sekolah atau waktu belajar sore.
Berbicara tentang anime, apa yang membuatnya jadi salah satu tayangan favorit bagi kebanyakan anak-anak dan remaja? Hal ini bisa dijawab apabila sang penanya mencoba untuk melihat langsung bagaimana isi anime tersebut secara langsung.
Bukan rahasia jika seorang mangaka (orang yang menggambar manga atau komik) atau penulis novel yang karya manga-nya atau novelnya diadaptasi menjadi anime adalah orang yang sudah dewasa, walaupun tidak mengesampingkan fakta bahwa ada beberapa remaja yang mulai menggeluti bidang seni tersebut. Karena sang kreator adalah seseorang yang sudah dewasa dan menginginkan sebuah karya berkualitas yang bisa dinikmati, maka mereka belajar dan menggali beberapa aspek sejarah maupun pengetahuan umum untuk dimasukkan ke dalam unsur karya yang dibuatnya.
Karena alasan tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa anime yang mengandung pelajaran sehingga cocok untuk menjadi media pembelajaran baru yang santai tetapi efektif. Contohkan saja sebuah anime berjudul Fate/Stay Night dan Fate/Zero, dari anime tersebut saja, anak-anak dan remaja sedikit banyak mengenal nama pahlawan atau penjahat dalam sejarah atau legenda dunia seperti King Arthur, Gilles de Rais, Gilgamesh, Alexander the Great dan Hassan I Sabbah.
Selain itu, banyak anime yang mengajarkan hal berguna bagi perkembangan anak dan remaja seperti persahabatan, keberanian, membela yang lemah dan menegakkan kebenaran lewat kata-kata bijak yang terselip pada dialog tokohnya. Contohnya dalam anime Kuroshitsuji (Black Butler), salah satu tokohnya, Ciel Phantomhive kurang lebih mengatakan ketika manusia masuk dalam kesulitan atau keputus asaan dan hanya ada seutas benang laba-laba yang terulur untuk keluar dari penderitaan itu, maka ia tetap berusaha untuk memanjatnya.
Dengan pertimbangan tersebut, beberapa remaja dan anak-anak memilih untuk menonton anime sebagai media pembelajaran baru yang menyenangkan. Walaupun substansi ajaran dalam anime belum tentu berguna di dunia akademis, tetapi perlu diingat kembali tujuan dari belajar terkait aplikasi keseharian yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup bermasyarakat sebagai manusia yang beradab, berprinsip dan bervisi.
Pendapat tersebut bagi kebanyakan orang tua bukanlah sesuatu yang bisa diterima seperti halnya alasan anak-anak yang belajar bahasa Inggris menggunakan media game. Sebab, banyak orang tua yang belum mengerti tentang kecocokan serta kenyamanan seorang anak dengan media belajar yang diterapkan. Sebab dalam teori psikologi, ada tiga tipe belajar yang sering dijadikan patokan dalam memahami sesuatu berdasarkan indera yang mendominasi, yaitu auditori dengan pendengaran telinga, visual dengan penglihatan mata dan kinestetik dengan sentuhan kulit.
Walaupun terlihat seperti permainan yang tidak berbobot, tetapi prinsip yang mengatakan bahwa ilmu dapat didapat darimana saja serta apapun dan siapapun dapat menjadi guru bukanlah sebuah kebohongan bila manusia mampu mengambil inti ajaran yang diselipkan oleh sang kreator.