dekap di musim lalu

“Benar.. Sedikit lagi.” gumamku sembari sibuk mengetikkan beberapa baris kata lewat tuts keyboard yang hurufnya sebentar lagi tak hanya sekedar pudar, namun hilang tak berbekas.
Mata ini tak sekalipun melihat pemandangan selain layar komputer, kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan setengah bagian dapur yang lebih tepatnya di depan isi kulkas. Apabila mampu diri ini menjeda sejenak saja aliran ide dalam otak, maka akan terlihat pemandangan tak karuan dari tempat tinggal seorang wanita lajang yang seharusnya menyadari pentingnya kebersihan bagi dirinya. Ya, bila kita gambarkan pemandangan tak mengenakkan itu, tentu visualisasi yang muncul takkan berlari jauh dari setumpuk baju bersih dan kotor yang berserakan di atas tempat tidur dan sebuah pojok kamar. Namun jangan sekali-sekali menganggap itulah satu-satunya hal yang mampu diamati dari rumah sang perawan ini. Tumpukan piring kotor, bungkus keripik kentang dan beberapa makanan ringan, bekas cup noodles, kotak susu dan jus buah, serta buku, kertas dan pena tak karuan memenuhi flat yang tak seberapa luas.
“yah.. Lalu… Ah, sial. Mengapa cepat sekali habis?” ucapku kesal ketika melihat cangkir kopi yang tinggal berisi sedikit ampas. Dengan malas, kuangkat tubuh menuju dapur untuk mengisi kembali cangkir tersebut.
“dan sekarang, air yang tadinya panas sudah kembali dingin. Hanya untuk secangkir kopi, aku harus menghabiskan waktu lama meskipun tealh ku gunakan racikan kopi instan.. Yah, sedikit peregangan sambil menungguinya mendidih mungkin bukanlah ide yang buruk.”
belum sempat ku tarik tangan dan kaki untuk gerakan peregangan yang biasa, terdengar bel pintu berbunyi. Tanpa menunggu waktu lama, kakiku melangkah untuk segera membukakan pintu untuk seorang yang sudah merelakan waktunya untuk mengunjungiku. Ketika pintu terbuka terlihat seorang wanita yang tak asing dalam sejarah kehidupanku.

Belum sempat kata terlempar dari sepasang bibirku, ia berteriak begitu saja sembari memeluk tubuhku erat, “aaiiraaa!!! Aku merindukanmu! Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Hem.. Kau bahkan tak punya waktu untuk menghubungiku. Kau pikir hidup ini bisa dilalui jika kau seorang diri saja? Seharusnya…hummpppp..” ku bekap mulutnya yang tak berhenti mengoceh.

“sebaiknya kita masuk terlebih dulu.” ajakku yang hanya dibalas anggukan kecil. Ia berjalan mengikutiku tanpa bicara sepatah katapun walau melihat pemandangan (tebaran barang dan sampah) yang sebenarnya sangat mengganggu.

“duduklah dimanapun kau suka. Kau suka kopi?”

Ia terdiam sejenak, “susu hangat jika kau tak keberatan, dan.. Tambahkan sedikit cokelat.. Hehe.”

Senyumku mengembang, “kau tak pernah berubah. Oh ya, aku tahu tempat ini buruk, tapi bisakah kau tak melakukan apapun? Maksudku membereskan atau membersihkannya”

“apa? Kau bercanda? Tempat ini tak jauh berbeda dengan tempat sampah.”

Ku garuk kepala yang sama sekali tidak gatal, “pokonya jangan lakukan apapun untukku. Mendapatkan bantuan membersihkan tempat ini akan membuatku sial.”

Ia tertawa kecil, “kau selalu saja begitu. Baiklah, aku takkan melakukan apa-apa.”

“bagus”. Jawabku sambil melangkah pergi meninggalkannya yang tengah duduk di ruang tamu sembari meneruskan pengamatannya pada keadaan sekitar yang berantakan.

Ketika aku kembali dengan membawa secangkir kopi dan susu, ia tak lagi duduk disana. Kucari ia yang ternyata duduk di depan komputer yang tadi ku tinggalkan dalam keadaan menyala. Matanya sibuk membaca ‘pekerjaan’ yang belum terselesaikan. Segera ku letakkan secangkir susu hangat yang ia pesan di samping komputer itu. Ia sedikit kaget dengan gerakanku, namun ia segera tersenyum.

“oh.. Hei.. Terima kasih. Kau masih melakukan ini ternyata, mengapa kau tak pernah bercerita padaku?” ucapnya sembari menyerutup isi cangkirnya yang masih panas.

“biar ku pikir sejenak,” kataku sembari menyulut sebatang rokok di dekat jendela, “kau tahu aku orang bodoh, mungkin itu alasannya.” ku nikmati asap rokok yang terhisap untuk kemudian ku keluarkan, “kau mengerti maksudku kan? Ku rasa akan jadi masalah kalau orang bodoh ini menjadi terkenal.”

Ia menghela napas, “kau tak berubah, aku kira apa yang dikatakan orang lain tentangmu di masa lalu seharusnya tak lagi kau ungkit dan jadikan prinsip. Justru baiknya kau buktikan pada dunia bahwa tak ada manusia bodoh di dunia ini, mereka hanya berpotensi dalam bidang tertentu. Kau tahu, apa yang kau tulis ini bernilai banyak. Dan harusnya..”

“aku tahu, dan seharusnya kaupun tahu semua tulisan itu sudah diterbitkan.” potongku.

Matanya mendelik, “kau bercanda? Aku bahkan tak pernah melihat nama aslimu maupun nama samaran yang sering kau gunakan tercantum pada buku, novel atau antologi manapun.” ia berjalan mendekat, “dengar, kau harus berubah. Ini bukan tentang masa itu.” tangannya melingkar memeluk tubuhku yang membelakanginya.

“dan kaupun harus mengubah perasanmu  terhadapku.” ucapku sambil melepas pelukan itu, “semua tulisan itu telah dicetak dan diterbitkan atas nama orang lain.”

“kau bergurau?”

“lihat mataku,” ku pegang kedua bahunya lembut, “apa aku terlihat sedang bergurau?”

“tidak, tapi..” ia berhenti sejenak,  “mengapa?”

Ku matikan rokok yang entah mengapa kali ini tak terasa enak untuk dinikmati, “mereka datang kemari, dengan beberapa kata manis menjeratku untuk menjadi seorang kawan, yah, semacam diplomasi jika kau memperumpamakanku sebagai negara. Jika kau sadar, tak ada hubungan yang tidak mengharapkan sesuatu, itu kenyataan. Mereka mengambil semua draft tulisan yang berhasil aku susun dengan susah payah. Tanpa sepengetahuanku, mereka menerbitkannya dan memberiku 30% dari total royalti yang diterima.”

Ia terdiam, terlihat matanya sedikit memerah dengan genangan air yang sepertinya ditahan. Ku biarkan ia seperti itu sambil menikmati secangkir kopi yang sudah dingin oleh hembusan udara dari arah jendela yang belum ku tutup selama tiga hari.

“kau..” ucapnya lirih, “mengapa tak kau laporkan saja pada polisi?”

Aku tertawa geli, “polisi? Dan kau kira itu akan membantu? Sekarang hukum tunduk pada uang, seberapa kuat kau menolak, fakta itu takkan mampu disangkal. Lagipula…” ucapku sambil melepas potongan koran nasional yang tertempel di belakang pintu, “kau pasti ingat fenomena ini.”

Matanya mendelik lebar dan menjatuhkan beberapa bulir air mata berjatuhan kala melihat potongan koran tersebut.

“kau pasti ingat, dahulu semua orang memanggilku idiot hanya karena tak pernah ku dapat nilai baik dalam jenjang akademis formal. Deskriminasi sosial, bahkan tindak pemudaran eksistensi terus dilakukan walaupun aku menjadi seorang yang berlaku jujur, baik dan suka menolong sesama. Tapi kau ingat, semua itu sia-sia, karena segala hal dilihat dari nilai itu. Ya, nilai yang tak pernah ku capai karena otakku yang bodoh.” ku tempelkan kembali potongan koran tersbut ke tempat asalnya, “ya, ku rasa ada benarnya sistem negara ini. Kalau ada penghargaan untuk orang yang cerdas, maka harus diadakan pula penghargaan bagi orang yang bodoh, walaupun indikator cerdas dan bodoh itu adalah nilai akademis yang mudah dimanipulasi. Tapi,, sudahlah, yang harus ku lakukan sekarang hanyalah hidup dengan kepercayaan dan cara yang ku yakini benar. Begitupun denganmu, kau seharusnya juga…” belum selesai apa yang ingin ku sampaikan, tiba-tiba saja ia mencium bibirku.

“kau mengatakan semua itu seolah-olah kau benar.. Aku mohon hentikan. Semua ini bukanlah kesalahanmu. Semua itu kesalahan mereka yang tak mampu memahami sisi lain dari dirimu. Lagipula, mereka terlalu terpaku pada hal-hal yang aku anggap kaku dan tak seharusnya kekakuan itu tetap dijadikan ukuran untuk menilai kemampuan seseorang. Bahkan kekerasan tak ragu mereka lakukan walau berbentuk verbal.” ia menarikku untuk duduk di hadapannya, “tak ada orang bodoh di dunia ini, ingat itu? Jadi berhentilah meracau tentang masa lalu yang tak seharusnya menahan langkah kita untuk terus maju pada cahaya cita yang menerangi hati.”

Bibirku bungkam seakan tak ada lagi pembelaan yang bisa ku lemparkan padanya. Seketika kegelisahan melanda. Ku pandangi wajahnya yang sedari tadi menatapku dengan sorot teduh. Namun, keteduhan itu seakan tak mampu membawa kedamaian pada hatiku yang rapuh, bahkan gelisah dan resah terasa makin menghimpit kala senyum manisnya.

Ku pecahkan keheningan itu dengan pertanyaan yang sedari tadi tertahan, “Aila, katakan padaku, mengapa kau datang kemari?”

Diraihnya sebelah tanganku yang kemudian digenggam erat oleh kedua tangannya, “karena aku mencintaimu, dan rasa cinta itu membawakan sebilah rindu pada hatiku.”

“bukankah dulu aku menyuruhmu untuk pergi? Kau tahu, perasaanmu bukanlah sesuatu yang benar..”

“menurut sebagian orang.” potongnya, ” bahkan aku takkan peduli jika orang mencemoohku. Karena kejujuran dari rasa ini harus tersampai, atau aku akan mati dengan rasa penyesalan yang tak seharusnya.”

Ku hela napas panjang, “lagi-lagi kau seperti itu.” kataku sambil melepaskan genggamannya yang hangat, “aku takkan membiarkanmu seperti ini. Kau harus menemukan bahagia yang sesungguhnya, dan kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang bisa kau dapat dariku.”

“karena kita sejenis?”

“ya, hampir seperti itu.” jawabku cepat, “dahulu, semua orang menyangka kita adalah saudara sekandung hanya karena nama kita berbeda satu huruf; Aira dan Aila. Dan dari sanalah kesalahanku berasal, karena kau bahagia dengan persamaan nama itu, kau jadi melekat manja padaku. Tak hanya itu, seiring waktu berlalu, kau tak lagi memandangku sebagai seorang saudara, tapi seseorang yang kau cintai layaknya seorang wanita mencintai lelaki.”

“kau tau, Aira. Tak ada yang salah dalam mencintai, karena perasaan ini bukanlah sesuatu yang dapat dimanipulasi sekeras apapun kita berusaha. karena dari rasa itu, muncullah kekuatan untuk mengubah diri demi orang yang kita cinta. Sebab, tak ada satu pecintapun yang ingin dirinya dan kisah kebersamaannya buruk. Maka dari itu, akupun akan melindungimu dari orang-orang yang sedari dulu senang sekali menghinamu. Bagaimanapun juga, kau tak seburuk yang orang lain kira.”

Ia mendekapku, sungguh hangat dan dalam. Setidaknya, ingin ku linangkan beberapa butir air mata saat itu juga. Namun, mataku seakan tak mampu mengeluarkan apapu, bahkan setetespun air bening untuk sekedar memperlihatkan rasa haru. Tak ingin rasanya dekapan itu terlepas begitu saja, namun sekarang telah pudar oleh sang waktu.

Lamunanku terhenti kala dering telepon berdenting. Tak ingin musik itu mengganggu tidurnya yang nyenyak, maka segera ku angkat setelah melihat sebuah nama yang terdisplay di layarnya.

“nona, semua target kita telah lenyap. Misi ini sukses, sebentar lagi media akan heboh dengan kabar banyaknya kematian tokoh yang hingga kemarin masih diagungkan.” Katanya dari seberang telepon.

Aku menyeringai puas sembari menutup telepon tanpa menjawab sepatah katapun. Tak lama, ku langkahkan kaki menuju sebuah kamar bertema remaja perempuan dengan cat dasarnya yang merah muda bermotif biru. Di tengah kamar itu, terdapat sebuah peti besi berisikan perempuan muda yang tengah tersenyum dengan bibir pucat dan mata yang selalu terpejam.

“Aila, mereka sudah mati. Kini, kau pasti sedang tersenyum bahagia. Bagiku, kematianmu adalah kepalsuan, karena kau selalu hidup dalam hatiku.”

(Semarang, 31 Maret 2015)

Iklan