seikat senyum untukmu

Ku awali malam ini dengan mengetikkan beberapa baris kata di kertas virtual. Perkembangan zaman selalu membuatku kagum, bahkan tanpa tinta dan kertas nyata tercipta banyak karya berbentuk virtual. Lalu sebenarnya untuk apa pabrik kertas terus berdiri saat kertas virtual ini menjadi alat pengganti terefektif?
Sejenak ingatan ini membawaku pada pertanyaan konyolmu, “lalu kenapa kau tak bertanya kenapa petani masih menanam padi?”
Aku tersenyum kecil dan menggeleng bingung, sungguh aneh kemajuan dunia ini.
“jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku tanpa memberi sedikitpun komentar atas pertanyaannya.
“hmm, tak ada yang benar-benar ingin ku lakukan.” Matanya menerawang jauh seakan membongkar laci keinginan dalam otaknya yang (mungkin) semrawut.
“baiklah, jika otakmu juga tak memberi respon tentang pertanyaan kecilku, mari kita berbaring memandangi langit yang mulai gelap. Berharap bintang akan menyapamu ramah.”
Ia terkekeh kecil, “untukmu, mungkin bukan bintang yang akan menyapa…”
Aku mengernyit bingung menanti kata-katanya yang menggantung, hingga ia melanjutkan “tapi mungkin meteor yang akan menabrak dan membumi hanguskanmu.”
“itu tidak lucu kawan,” ia tetap terkekeh.
Langit senja semakin memudar dan berganti warna, kontras warna yang halus,orange keunguan berpadu dengan biru gelap kehitaman yang seakan ingin mendominasi, memang hitam merupakan warna netral yang terlalu kontras dan kuat.
“hei, kenapa warna gelap kehitaman di langit mendminasi merah orange? Bukankah merah selalu menjadi warna mecolok yang begitu memikat dan menjerat mata saat ia pertama berpaling?”
Aku terdiam beberapa saat, tak kutemukan jawaban yang tepat untuk memuaskan mulutnya yang senang mengoceh, “hemm,,, mungkin karena hitam adalah warna keabadian, sedangkan merah adalah warna mencolok yang terlalu angkuh dan menebar pesonanya.”
Ia mulai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Bola matanya berputar-putar seakan ingin mengetahui sesuatu yang lebih. “jadi menurutmu, merah adalah warna yang buruk?”
“tidak..” jawabku tegas, “hanya kadang aku terlampau mengidentikkan merah dengan sesuatu yang bersifat kriminil”
“lalu bagaimana dengan pendapat bahwa merah adalah lambang keindahan tubuh dan bahasa cinta?” kejarnya tak mau mengalah.
Akhirnya ku hela napas yang tertahan, “entahlah, aku lebih suka melambangkan cinta dengan lambang putih, karena bagiku cinta bukanlah sesuatu yang berwarna cerah menantang, sebab terdapat unsur ketulusan, kasih sayang, dan kejujuran yang semuanya mengarah pada sesuatu yang suci dan patut dijaga. Sedangkan untuk melambangkan keindahan tubuh, bukankah merah malah sedikit melambangkan kucuran birahi? Tapi terserah bagaimana otakmu memiki…awawawawaw….”, belum sempat ucapan ini berakhir, ia malah menarik pipiku.
“hahahaha.. sudahlah, tak perlu serius begitu.” Senyumnya mengembang lebar.
Tak ku hiraukan canda yang membuat kedua pipi ini merah kesakitan, “ah, tentu saja karena separuh otakmu itu tak benar-benar bekerja.”
Tanpa terduga, ia berpindah jongkok di depanku sembari menatap wajah ini lekat, “dan sekarang kau mengatakan kejujuran tentang keadaan otakmu itu.”
Seketika mataku membulat, “aku tak sebodoh itu. Yah, mungkin.. mungkin.. ah..mungkin Tuhan sedang menyicil otakku agar tak terjadi kesombongan pada diriku,.. te-hee.”
“hahaha.. yah.. teruskan saja imajinasi yang kau anggap sebagai sebuah kebenaran.. dasar, kau tetap tak berubah. Dan, itulah yang ku suka darimu.” Tangan lembutnya membelai kepalaku lembut.
“karena aku tak berubah, apakah kau akan berjanji untuk tak meninggalkanku?”
Ia terdiam sejenak, “hemm.. biar ku pikir terlebih dulu.”
Satu menit…
Dua menit…
Lima menit…
Aku mulai lelah menunggunya, “aahh… terlalu lama! Dan kau bilang otakku yang tak berfungsi.”
“hehehe…” ia terkekeh kecil, “aku memang menyukai dirimu yang apa adanya, tetapi ada kalanya manusia memang harus berubah. Tetapi ingat satu hal, jangan sampai perubahan itu tidak menunjukkan siapa dirimu. Jadilah dirimu sendiri, berbanggalah dengan orisinalitas yang ditanamkan Tuhan kepadamu, tak perlu bertopeng untuk mengimitasi orang agar dianggap baik. Mengerti?”
Ku miringkan sedikit kepala sebagai pertanda sedang berpikir, “baiklah, aku berjanji akan tetap jadi diriku.”
Ia tersenyum simpul kemudian mendekatkan bibir hangatnya ke dahiku, ciumannya selalu membuatku bahagia. Bahkan hingga sekarang, meskipun takkan lagi ku rasa ciuman itu.
Setiap waktu, hanya ku pandang fotomu yang terletak di sebelah perangkat komputer ini. Ya, komputer yang berisi semua tentang kita, sejak pertama kita bertemu hingga kepergianmu terlebih dulu yang meninggalkanku dalam kesedihan yang mendalam. Tetapi, bagaimanapun juga aku mulai mengerti, kau takkan mungkin suka melihatku terkurung dalam kelamnya duka.

Iklan