Biar mengalun

Hati rebah melingkar jatuh terinjak
Berselimut hina, darah dan air mata jiwa
Membengkak letih tertabur perih garam cerca
Satu bungkam wakili berjuta koreng nanah
Menjerit pun tak berdaya… berbusa..
Suara tertelan vakumnya ruang semesta
Bising disana menyayat sepi yang terkapar.. perih..
Bahagia bualan canda bersemu fana
Berkembang kuncup bangkai tercium wangi
Lumpuh rasa tak sanggup mekar.. busuk..
Ujung sana tak ada tepi menanti.. mati..
Tak berakhir walau dunia mengharu sepi
Pekat awan membumbung ejek burung kenari
Mencuat rindu berkecamuk dalam hati
Gugur seribu cahaya ditelan gelap bersemi
Membeku dingin bersama untai ratapan misteri

Iklan

Aku tak tahu

Di bawah naungan langit senja aku termenung.. bukan suatu rangkaian kata-kata manis yang tersampai, hanya beban-beban tak penting yang lama teronggok.. kau tahu apa? Aku sendiri tak tahu.. jariku menari di atas tuts keyboard seiring kata-kata yang berjalan tepat di depan mata. Otak ini seakan menginginkan kata-kata random yang lama berputar, lalu sebenarnya.. apa itu? Ku telah katakan padamu kesekian kalinya, aku tak tahu..

Lalu sebenarnya kenapa jemari ini terus menari? Tentu karena sebagian otakku menginginkannya menulis, menuang, membongkar semuanya.. semua hal tak penting yang membuang air mata, tawa dan sendu.

Aku lelah, semakin tak mengerti apa sebenarnya maunya diri ini. Kata-kata terus terketik seiring langit yang semakin merah hingga memudar menjadi ungu dan gelap. Lalu apa hasilnya? Ku bilang sekali lagi aku tak tahu..

Aku hanya ingin menuang kata-kata yang terus berputar tanpa arah dan arti yang jelas. Lucu memang, tapi bagiku tak sedemikian.. sama sekali tak lucu.. aku hampir gila dengan kata tak terarah ini.. lalu harus bagaimana?

Tak ada jawaban.. bahkan dari ujung pandangku pada langit senja. Langit…benar… kadang aku memikirkan banyak hal imajinatif yang tak mungkin terjadi secara rasio.. bisakah aku menghilang? Bertransformasi menjadi bentuk lain yang akan menghapus memori manusia tentangku, tentang semuanya. Lalu kenapa ku inginkan hal aneh yang tak mungkin terwujud?

Sekali lagi, sekedar berlari dan bernaung pada sinar bintang yang bahkan masih berpijar kala purnama datang menjelang. Sebegitu inginkah aku musnah? Mungkin. Ya..ataupun..tidak.. biarlah.. biar hal gila ini terus berputar dan mencapai batasnya.. suatu saat nanti, mungkin kata tak bermakna ini akan tersusun indah menjadi melodi.. ya.. melodi yang akan dikenang oleh seseorang.. siapa kau bilang? Sekali lagi aku tak tahu

Cukupkan omong kosong ini, dunia tak membutuhkannya meki tak ada larangan untuk mengumbarnya. Lalu sebenarnya, sekali lagi.. apa itu? Dan ku jawab berkali-kali.. aku tak tahu.. bahkan hal terkecil yang mungkin akan diketahui oleh orang pada umumnya. Namun sekali lagi aku hanya ingin berputar, terserah apa katamu, kata mereka, dunia tak membenciku saat kata-kata ini berputar dan mengalir dalam syaraf otakku yang mungil. Jadi biarkan aku menghilang dibalik langit senja yang menenggelamkan matahari jauh di ujung pandang dunia.

(Semarang, 23 Desember 2013)

Sungguh (kasihan)

Matanya kian sayu langit
Kala terusik ia lari menjerit
Kala melumpuh seakan hilang tersabit
Kala mendenging seakan luka terhimpit

Kasihan sungguh kasihan angin
Bermimpi mengharum melati tak mungkin
Menjelma mawar putih tak yakin
Jadi anggrek pun ia tak ingin

Lalu bagaimana kau itu?
Bahkan mentari memandangnya redup
Dedaunan jua diam mengatup
Tak tinggal satupun tegur meletup

(Semarang, 12 September 2013)

Semesta tolong…

Bintang…
Katakan padaku hal-hal membayang
Tentang semu merah sebelum petang
Atau debur sinarmu memanjang

Bulan…
Sungguh Tuhan tahu tanpa ku katakan
Rasa hidup yang terintihkan
Terbekas di relung tak tertahan

Mentari…
Jiwaku hilang jatuh tercuri
Biarkan jiwa kecilmu berlari
Sebelum mati sobek tersayat duri

(Semarang, 07 September 2013)

Mengapa?

Malam jadi waktu terindah
Apalagi saat bintang berpindah
Bulan bersinar pun tak sudah
Namun hanya langit yang menggundah

Kenapa langit saja katanya?
Menjulang luas mencakrawala
Kenapa langit lagi katanya?
Tanpanya bulan dan bintang tak bersua

Langit biarkan kami menyatu
Melayang tinggi arungi waktu
Menggapai bintang meskipun satu
Maumu bulan si onggok batu

(Semarang, 12 September 2013)