akhir tak berujung

Rinai hujan membasuh sebagian kuku alam bersama kilat petir di ujung langit. Hawa dingin menyeruak terbawa angin yang mendayung dedaunan. Gemerisik rumput dan gemuruh guntur beradu gema dengan bunyi butir hujan yang pecah menimpa bumi. Di ujung mata ini terpantul bayang manusia yang berhampur menjauhi titik air yang berjatuhan. Beberapa dari mereka bersungut dengan kesal, ada pula yang terkikik riang, tapi tak jarang sebagian dari mereka terdiam bisu tanpa seulas senyum.
Jemari kecil ini mengusap kaca berembun yang berdiri di hadapnya. Pantulan bayang di atas kaca berembun itu memperlihatkan secercah senyum tersimpul di bibir yang pucat. Ku susuri bayang wajah bayangan itu perlahan, matanya hampir layu seperti pohon muda yang tak meminum seteguk air.
“aku rindu titik hujan membasuh tubuh pucat ini.” Gumamku perlahan.
Jauh di belakang bayang itu, terlihat orang-orang menanti hujan di bawah naungan atap halte. wajah mereka terlihat cemas menanti air langit yang tak kunjung lelah berjatuhan. Air yang dulu selalu dinanti untuk segera ditenggak, sekarang sedikit banyak mulai dicemaskan segelintir orang.
“aku bosan dengan keadaan ini, sebentar lagi kita akan musnah.” Ujar seseorang suatu waktu.
Aku tercengang dengan penuturannya, “mengapa kau berpikir sedemikian?”
Mata kosongnya menatapku bingung, ia mulai menghela napas berat, “kemana saja kau selama ini? Dunia ini sebentar lagi tak akan ada.”
“menurutku tidak, masih banyak harapan bahkan dalam ketidak mungkinan sekalipun.”
“KAU TAK MENGERTI!!” teriaknya tiba-tiba.
Bibirku terkatup. Ku telusuri matanya yang setengah melotot, banyak rasa yang tak mampu ku baca.
“bahkan seharusnya kau tahu bahwa Tuhan muak dengan segala tingkah laku manusia yang tidak mengikuti aturan-Nya.” Ujarnya melunak.
Mata ini memandangnya sayu seakan mengerti apa yang tengah dipikirkan orang d depanku.
“namun, tidakkah kita bisa hidup lebih lama?” tanyaku hati-hati.
Ia mendesahkan napas panjang, “mungkin saja jika dulu kesombongan atas kekerdilan kita tak berada di ambang batas.”
Kata-kata itu terasa mengalun pelan dalam otak kecil yang tak terlalu ku gunakan walaupun Tuhan telah memberikannya secara utuh.
‘benar, kita terlalu sombong padahal otak yang diberikan pada kita saja tak mampu diolah secara optimal.’ Batinku lirih.
Retakan cahaya petir tiba-tiba menyadarkan jiwaku yang berkelana jauh bersamaan dengan suara yang menyapa lembut.
“seharusnya kau menarik selimut dan beristirahat kembali.”
Ku sunggingkan senyum simpul, “aku tak pernah beranjak dari ranjang kecuali kepentingan kebersihan badan kan? Seharusnya kau lebih tenang. Walaupun, sekarang anganku adalah merasakan tetes air hujan membasahi tiap jengkal tubuh ini.”
“aku tahu kau selalu melihat dan menelusuri bintik air hujan yang tertinggal di jendela. Namun, jika kau keluar dan mandi hujan, keadaanmu mungkin akan bertambah buruk.” Matanya sendu menatap langit dibalik kaca.
Aku termenung lama memandang rinai hujan yang berjatuhan lirih. Jemari kecil ini kembali mengusap embun di jendela.
“buruk tidaknya diri ini lunglai terkoyak, aku takkan pergi. Hati kecil yang memandangmu sayu akan tetap ada untuk sedikit menghapus kepiluan lewat bisik sembilu angin di ujung senja. Ingatlah, aku tetap disini.”

Iklan

2 respons untuk ‘akhir tak berujung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s