cerita kecil

Kutadahkan wajahku ke langit, berharap hujan turun membasuh jiwaku yang kering. Namun tak kunjung pula hujan itu turun.
“Kenapa tak pula kau siram aku hujan?”
Bulan bersinar semakin terang saat malam semakin memperlihatkan kekuatannya. Purnama entah keberapa kali yang kulihat selama umurku berjalan.
“Tak ada yang berubah, langit itu tetap gelap. Sedang bulan dan bintang itu tetap saja terang.”
Angin menyeruak membelah helai-helai rambutku yang tergerai. Seakan ia tak ingin diriku terdiam dibawah naungan langit dan lirikan bulan.
“Kau itu menyedihkan.”
Sebuah suara membuat kepalaku menoleh ke arah datangnya. Seseorang berdiri disana dengan wajah datar yang tak ku pahami.
“Biar apa kau bilang, inilah aku.” Ia mendekatkan diri dan duduk di sampingku.
“Kenapa pula kau terus pandangi langit itu? Ia takkan berubah meski kau memandangnya seumur hidupmu. Ia pun akan tetap tak terjangkau saat kau melompat.” Ia berbica dengan ekspresi yang benar-benar tak ku mengerti.
“Kau tahu, langit itu yang sejenak membuat manusia lupa bahwa ia punya masalah.”
Ia merapatkan tubuhnya untuk menahan angin yang semakin menusuk.
“Bagimu demikian, tak kau tahu banyak yang lebih beranggapan langit malam adalah objek terbaik untuk berkeluh, menangis, merasa letih dan putus asa.”
“Mungkin benar bagimu, tergantung analogimu..” kuhela napas panjang untuk memenuhi paru-paruku yang sesak.
“Tak perlu berlaku sok tegar. Bahuku adalah tempatmu menangis, telingaku tempatmu mengadu, dan diriku tempatmu berlari.”
Air mataku menggenang, ” berjanji pada langit untuk selalu tegar. Namun aku terlampau letih.”
Ia berdiam, matanya menerawang jauh. Entah apa yang dilihatnya.
“Kau tahu, manusia termasuk makhluk lemah. Itulah kenapa ia membutuhkan Tuhan. Cukupkan air matamu, air mata tak akan mengubah apapun.”
Ku benamkan wajahku pada bahunya, ia merengkuhku erat. Air mataku tak lagi mampu ku bendung lebih lama, terlalu berat.
“Aku merasa hina, terlalu kotor. Bahkan aku merasa jijik dengan diriku sendiri.” Tangisku pecah seketika.
“Lalu apa yang ada dalam otakmu saat kau berpikir seperti itu?” Rengkuhannya semakin erat mendekap jiwaku yang hampir hilang.
“Aku ingin mengakhirinya, saat benar ku rasa hidup ini tak berarti.”
Ia menghela napas berat, “apa sebenarnya keinginan yang pernah terbersit dalam benakmu?”
Kuangkat wajahku menghadapnya, “aku tak tahu. Aku takut hidup kalau tak berarti dan aku takut mati dengan sia-sia.” Air mataku terus turun dengan lincahnya.
“Lalu kenapa kau tak melakukannya? Bangkit kembali?” Tangannya lembut menghapus air di mata dan pipiku.
“Aku kesepian, aku sendirian, aku merasa kotor. Aku tak tahu lagi harus bagaimana menjalani hidup yang kurasa tak diinginkan makhluk Tuhan lainnya.”
“Kau tak sekotor itu.” Matanya menatapku lelah.
“Aku kotor, aku hina, aku gadis tak berarti yang banyak dijamah oleh birahi lelaki.” Jantungku berdetak berat seakan tak lagi ada daya yang membuatnya berbunyi.

13 Mei 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s