Tengah Malam Kosong

Malam beranjak semakin gelap saat ku coba menjentikkan jari menyusun beberapa hal dalam kertas elektronik ini. Andai mampu ku ingat terakhir kali jari ini menari riang di atas keyboard, maka sudah pasti aku menyadari bahwa waktu telah beranjak sedari dulu. Sebenarnya memang tak ada satu hal yang mampu ku bagi, apalagi mengingat kehidupan monoton yang berlangsung setiap harinya.
Pagi, siang, dan tentu saja malam. Ia terus bergerak datang dan meninggalkanku termenung dalam dunia yang terasa hampa dan tak berarti. Bagi sebagian orang, ini adalah keluhan, mungkin. Tapi aku tak menganggap perasaan dalam cerita kehidupan selalu terkategori keluhan.
Aku melalui hari dengan bersusah payah. Melakukan banyak hal yang dianggap orang tidak penting dan membuang waktu ; berdiam diri. Bukan sesuatu kemalasan saat hal pertama dan terakhir yang mampu raga ini capai adalah berdiam diri. Dalam sepi dan kehampaan yang menyiksa, apa yang mampu tercapai?
Tak pernah terbayang bahwa setiap hari yang ku lakukan adalah diam. Bukan sekedar diam, namun bercerita pada Tuhan lewat isik bisu. Hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa penyesalanku berada di ambang batas.
Sedikit ingatanku terbuka, dulu yang mampu ku lakukan adalah menangis dan meracau pada Tuhan untuk mengambil kebahagiaan beserta kesehatan dari jalur nasibku. Untuk apa semua itu? Tentu ku berikan pada orang yang tersayang; orang tua dan saudara.
Mengapa aku melakukannya? Karena di saat itulah kehampaan mulai menghampiri. Kawan tak punya, keluarga bermasalah, dan hidup dalam sangkar emas yang disebut rumah. Bagi orang lain, pasti akan mencibirku sebab tak mau bersyukur karena kehadiran orang tua yang masih lengkap. tapi bukan, bukan karena itu aku ingin Dia mengambilnya.
Eksistensi diri yang tak terasa nyata mendorongku jatuh dalam kehampaan dan rasa sepi yang mencekat. Aku bersyukur memiliki mereka, aku menyayangi mereka walau mungkin bukan diri ini yang mereka inginkan hadir. Tak ada satu alasan pun untuk membeci mereka, orang yang selalu ada meski sekat seakan memisahkan kami jauh.
Orang lain selalu berkata aku anak beruntung karena memiliki mereka, jadi kupikirkan satu hal, ‘mereka pasti sangat hebat hingga ada orang yang sempat memuji’.hingga pada akhirnya aku memaksa Tuhan mengambil ketentuan nasib yang telah Dia gariskan hanya untukku.
Siang malam ku nanti pemaksaan itu terjadi. Hingga suatu saat, kesedihan, rasa sakit, rasa kecewa, rasa sepi, semua beradu dalam dada. Mungkinkah Tuhan benar mengambilnya? Aku mengangguk setuju melihat orang tersayang tertawa dan merasa sehat setiap waktu. Sedang diri ini seakan tumbang perlahan.
Suatu saat, ku cari segala pelampiasan untuk menghangatkan jiwa yang hampir mati ditelan kebekuan. Ku kenal dan dekati beberapa orang untuk sedikit merasa bahwa hidup ini tak seperti yang terbayang. Hingga pada suatu saat seseorang berkata, “kau terlalu menggunakan emosimu dan karena kedektan ini, kau menjadikanku sebagai pelampiasan.”
Tanpa ia tahu, jiwaku teriris. Lalu ku panggil Tuhan untuk merengkuh jiwaku yang sakit. aku berkata pada-Nya, “Tuhan, mungkinkah harus ku buat diri ini terasing? Sedang sebenarnya aku telah terasing? Karena ia berkata sedemikian, maka kuatkan aku agar tak lagi hidup sebagai hama dalam dunia ciptaan-Mu.”
Tanpa kehangatan, aku berlalu menghampiri angin dan sebatang pohon kurus yang setia berdiri meski terik mentari seakan membakarnya. Ia tersenyum melihatku datang, sapa lembutnya sedikit mengobati hati nan pilu.
“mengapa pula sorot matamu hampir mati?”
Ku sandarkan tubuh mungil ini padanya, “hati ini terlampau beku, takkan mungkin bertahan dalam kehampaan yang mncekam dan kesepian yang menyayat. Perlahan namun pasti aku akan binasa tanpa seorangpun mnegenang bahwa aku pernah hidup diantara mereka.”
Sang pohon memanggil angin untuk sedikit menyejukkan jiwaku yang jemu. Ia bercerita betapa ia selalu sepertiku, namun bertahan untuk tunas-tunas baru yang tumbuh disamping kakinya.
“akan ada kehangatan menghampirimu dan merengkuhmu hingga air mata itu tak perlu lagi menyusuri pipi untuk kemudian jatuh dan pecah.meski kebahagiaanmu telah kau berikan, namun akan ada orang-orang yang rela membagi nasibnya denganmu. Hanya butuh sedikit kesabaran untuk menggapainya.”
Tak tahu harus berkata apa, aku beranjak meninggalkannya jauh dan menyandarkan diri pada sebatang beringin tua yang selalu ramah menyapa dan mempersilakanku berada disampingnya. Tak ku sangka ia mendengar percakapan kecilku dengan si pohon kurus tadi. Ia menyarankanku untuk terus bertahan.
Akhirnya kulakukan apa yang kedua pohon itu minta; aku bertahan. Ku paksa bibir ini terus tersenyum meski jiwaku hampir hilang dalam kegelapan. Namun ternyata, tak terlampau banyak hasil yang terlihat.
Sampai saat ini, jiwaku sepi walau dunia ini sangatlah ramai. Jadi untuk apa jiwa ini masih bertahan? Bahkan rela jatuh, terluka, dan sekarat untuk berjuang mempertahankan banyak hal yang tak pasti.
“tak ada yang sia-sia.” Kata orang yang melahirkanku ke alam ini.
Mungkin itu adalah suatu alasan mengapa sampai saat ini jiwaku tetap mampu bertahan meski banyak orang mencoba menyakiti dan mempermainkan jiwa yang tak terarah. Aku yakin Tuhan tahu apa yang ia lakukan padaku, meski memang tak semulus kemauanku.
Walau mungkin ku kira ini adalah kehendak mutlak Tuhan, namun ku belokkan persepsi buruk tetangNya. Aku pun mulai meyakini, “apa yangterjadi sekarang, semua karena perbuatan menyakiti orang lain sebagai wujud pelampiasan di masa lalu.”
Semua orang pasti akan berkata, hukum karma sedang berjaan dalam garis kehidupanmu. Maka ku lakukan apa yang harusnya ku lakukan, bertahan dan mengulas senyum meski perih semakin terasa menusuk relung jiwa yang kosong.
Bagi sebagian orang, mereka pasti akan mencari seseorang untuk mengisi jiwa kosong mengobati perih hatinya dengan hal berkata cinta. Meski aku sendiri tak mengerti apa arti cinta sesungguhnya. Selama ini yang ku ketahui hanyalah rasa sayang yang selalu ingin ku jaga meski hati ini semakin tak lengkap karena sakit yang menggerusnya.
Walau aku termasuk orang bodoh yang ternyata punya kesempatan hidup di dunia, namun anehnya aku mampu mersakan bagaimana menyayangi orang lain. Dan aku mencoba mempertahankannya karna hati ini selalu berkendak. Sedang masalah apakah Tuhan akan mengabulkan kasih yang tersimpan atau tidak, aku tak terlampa peduli.
Jika memang aku membutuhkannya dan Tuhan menghendaki, maka tak ada satupun yang mustahil. Karena bagiku, Tuhan tak banyak mengabulkan apa yang kita inginkan, namun ia banyak mengabulkan apa yang kita butuhkan. Dan kebutuhan itu, tanpa kita sebut pun, Tuhan telah mengetahuinya terlebih dahulu.
Aku bersyukur bisa menyayangi orang lain, tapi ada satu pertanyaan yang mengganjal, adakah seseorang yang mampu menyayangiku seperti aku menyayangi seseorang yang sekarang ku sayang? Kita tak boleh meragukan Tuhan, namun jawaban dari pertanyaan itu, mungkin tidak akan ada. Bagi seseorang yang tak sempurna, berharap sebuah kasih tulus tanpa unsur dipermainkan adalah hal yang sulit terwujud dalam angan manusia normal.
Sudahlah, orang yang membaca tulisan ini pasti akan berkata, “kau adalah orang lemah yang tak pernah bersyukur dan suka mengeluh. Tak hanya itu, menurutku kau tak pantas hidup dengan sikap melankolis berlebih yang melekat dalam jiwamu.”
Namun, sama sekali aku tak peduli. Inilah aku, akan tetap menjadi aku, dan takkan jadi selain aku. Hari-hariku memang terlampau sepi, namun akan ku temukan banyak hal menarik dalam rasa sepi ini. Meski itu termasuk mencoba bunuh diri atau menjauhkan diri dari pergaulan normal. Karena ku rasa, mata mereka pun terlampau tajam saat menatapku.
Dulu, aku selalu punya satu teman yang akan selalu menemani dan menguatkan diriku. Dan saat satu orang itu hilang, akan terganti dengan seorang yang lain. Namun, apakah kehidupanku hanya akan berjalan dengan sistem seperti itu?
Aku baru saja kehilangan beberapa teman yang selalu menguatkanku disaat sepi mencekikku terlalu erat. Ada Dita, Ryan, Ain, dan Rieka. Hanya mereka yang masih ku ingat namanya, meski hany teman di dunia maya, paling tidak, mereka yang selalu menghibur dan menguatkanku hingga mampu berdiri hingga saat ini. Terima kasih untuk tiga tahun yang sangat berarti.
Belum lagi teman di dunia nyata. Bahkan aku kehilangan Kelinci, seseorang yang bahkan sudah ku anggap kakak sendiri. Aku takkan ingin mengganggu calon rumah tangga barunya, jadi biar aku menjauh.
Itulah aku, menjauh demi orang lain. Meski ada satu orang yang entah kenapa sampai detik ini belum bisa aku lepaskan walau ku tahu aku hanyalah orang kedua. Air mata tak akan lagi aku teteskan, blum tentu juga eksistensiku tersimpan dalam hatinya, aku takkan berharap banyak. Biar semua orang bahagia dengan jalannya, dan biar aku sendiri menatap ulas senyum mereka sebelum Tuhan merengkuhku dalam tidur panjang tak berujung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s