Kurasa Letih

langit mulai sedikit menguning tanda senja datang mulai menyapa. mentari beranjak turun memancarkan sinarnya lewat celah batang pepohonan yang memantul keras terserap jaket hitam yang terpakai. ah, surya, begitu cepat waktu berlalu kala rindu ini tak lagi terbendung. ah, waktu, bisakah kau sedikit melambat untuk membiarkan hatiku yang berongga sedikit penuh kasih yang hilang. serpihan rongga dada membias luka yang beterbangan bak debu pasir di ujung gurun samudera. apa ini? sebutir rasa letih menyiram garam pada jiwaku yang terlampau perih. semua berkata dunia ini indah dengan segala kemegahan dan keanggunannya, benarkah? ketika berpuluh orang berkata “dunia ini indah karena seputik cinta yang terbalur serbuk sayang”. cintakah unsur keindahan? cintakah unsur kebahagiaan? bahkan tubuh lemah ini makin tak mengerti. kala engkau berkata “kau telah merasakan jatuh cinta”, sedang terasa dalam sukma mengapa cinta begitu penuh dengan peluh dosa. dosakah kala manusia merasakan cinta? dosakah kala manusia merasakan sayang? melelahkan serta menjemukkan logika yang hampir lumpuh. “cinta tak butuh alasan”, kata mereka. namun mengapa saat ku jatuh cinta banyak manusia mempermasalahkan? apakah rasa cinta hanya terbatas untuk dimiliki segelintir orang dengan alih-alih posesif? tersadar dalam rasa yang hampir mati, posesif bukan cinta. namun kau berkata lain,”posesif merupakan bentuk cinta. cinta pada diri sendiri karena takut kehilangan yang terlalu menjadi momok seram hingga mengubah kepribadian menjadi agresif.”
setelah beberapa argumen berputar dalam kepala kecilku, sebutir air mata jatuh membasahi pipi yang tersapu debu. bayang cinta terlarang berputar dalam kelopak mata yang letih menatap dunia fana. seberat apapun rasa tertahan demi keberlangsungan cinta terlarang yang selalu teruntai dalam do’a, akan terasa ringan saat cinta itu terbalas tanpa percuma. bagaimanakah cinta ini seharusnya berjalan? bagaimanakah cinta ini seharusnya dirasa? siapakah yang patut mendapat sebongkah cinta tulus dari kesucian anugerah yang diberikan Tuhan? entah.. entah..entah..
terasa menjemukkan kala luka karena cinta diresapi bersama semilir angin sore yang teduh. angin yang akan menerbangkan sepucuk do’a pada Pencipta yang Murah Bijaksana. pinta seorang manusia tentu terlampau banyak sehingga tuhan terkadang jemu mengabulkan dengan cara yang mudah. namun secercah harap dalam isik munajatlah yang menguatkan retakan hati yang bergemuruh, letih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s