Pudar

Kau disana, berdiri tegak sedari mentari masih tegak bergelayut hingga ia hampir jatuh tertidur. Separuh tubuhmu basah terapung dan tersapu ombak yang berkejaran ke tepi. Lelah menunggu, ku langkahkan kaki mendekati sosokmu yang tersorot mata surya.
“Tidakkah kau lelah berdiri disana? Aku letih menantimu beranjak.”
Ia tersenyum mendengar keluh kecilku, “kemarilah sayang.”
Tanpa lama berpikir, kulangkahkan kaki lebih jauh hingga air tepi samudera mulai membasuh setengah tubuhku basah.
“Lihatlah kesana!” Mataku berputar mengikuti jarinya menunjuk seekor camar yang terbang setengah tinggi. “Aku ingin bebas seperti ia yang diperkenankan terbang kemana ia mau.”
Dahi kecilku mulai mengerut, “lalu, kau akan meninggalkanku di pondok kecil kita?”
Ia terdiam sejenak, “aku kira kau takkan merasa sepi. Sebentar lagi peradaban ramai akan menjangkau pantai kecil kita. Saat itulah orang-orang baru datang untuk menemanimu tinggal disana.”
Mata ini mulai tergenang, “tidakkah kau ingin tinggal dan merasakan banyak bahagia di tiap menit kebersamaan kita? Aku lelah merasa kosong, mereka yang berstatus orang tua meninggalkan kita dengan luka tembak di jantung. Takkan ada lagi yang menemaniku kala kau pergi berlayar dan harusnya kau mengerti.”
“Aku tetap ada disini, di hati kecilmu.” Ungkapnya sembari merengkuh tubuh ini erat. “Tak akan ada kehangatan saat aku berdiam disini.”
Ku benamkan wajah di dadanya yang bidang, “tidakkah hadirku cukup membuatmu merasa hangat?”
Ia menggeleng pelan sambil tersenyum simpul, “bukan begitu, tapi akan ku lakukan sesuatu yang seharusnya sejak dulu ku lakukan. Jadi, tunggulah aku kembali.”
Air mata ini tak mampu lagi terbendung, “kau harus kembali dan benar-benar harus kembali.”
Sosok lembut itu perlahan memudar bersama senyum dan ciuman hangat di keningku. Wajah itu masih membekas bahkan ketika aku menutup mata. Dan kini yang tertinggal hanyalah hiruk pikuk masyarakat pantai yang ia katakan.
“Kau benar, pantai kecil kita terjamah keramaian meskipun tanpamu.” Gumamku sambil menggenggam erat serpihan perahumu.

Setengah pelacur

Aku tergoda kala bibirmu merekah
Molek tubuhmu bawaku terbang ke ujung surga
Suara kecilmu bak ombak mendesah
Walau matamu hilang di tepi telaga
Setengah pelacurku mataku liar berapi
Menjamahmu bakar nafsu birahi
Meski tahu kau layani setengah hati
Namun indahmu halus tak berduri
Dendam fantasi terwujud olehmu
Nikmat dunia terengkuh menyatu
Ah… kini dingin merambahmu lelah
Darah mengucur menggalah
Bintik matamu hilang membalik putih

Apa pula

Apa pula tanyaku bergulir
Mutiara mana putih mendesir
Intan mana bening membutir
Permata mana lekuk terukir
Bukan molek tubuh terhidang di katup
Bukan rekah bibir merah tertutup
Bukan gemuruh desah napas meletup
Bukan pula solek wajah yang membuat gugup

Halus budi lelehkan jiwa meradang
Tutur lembut lenakan lelah mendulang
Kuatmu bawaku terbang jauh ke awang
Muliamu buat dunia terang sehangat lintang

akhir tak berujung

Rinai hujan membasuh sebagian kuku alam bersama kilat petir di ujung langit. Hawa dingin menyeruak terbawa angin yang mendayung dedaunan. Gemerisik rumput dan gemuruh guntur beradu gema dengan bunyi butir hujan yang pecah menimpa bumi. Di ujung mata ini terpantul bayang manusia yang berhampur menjauhi titik air yang berjatuhan. Beberapa dari mereka bersungut dengan kesal, ada pula yang terkikik riang, tapi tak jarang sebagian dari mereka terdiam bisu tanpa seulas senyum.
Jemari kecil ini mengusap kaca berembun yang berdiri di hadapnya. Pantulan bayang di atas kaca berembun itu memperlihatkan secercah senyum tersimpul di bibir yang pucat. Ku susuri bayang wajah bayangan itu perlahan, matanya hampir layu seperti pohon muda yang tak meminum seteguk air.
“aku rindu titik hujan membasuh tubuh pucat ini.” Gumamku perlahan.
Jauh di belakang bayang itu, terlihat orang-orang menanti hujan di bawah naungan atap halte. wajah mereka terlihat cemas menanti air langit yang tak kunjung lelah berjatuhan. Air yang dulu selalu dinanti untuk segera ditenggak, sekarang sedikit banyak mulai dicemaskan segelintir orang.
“aku bosan dengan keadaan ini, sebentar lagi kita akan musnah.” Ujar seseorang suatu waktu.
Aku tercengang dengan penuturannya, “mengapa kau berpikir sedemikian?”
Mata kosongnya menatapku bingung, ia mulai menghela napas berat, “kemana saja kau selama ini? Dunia ini sebentar lagi tak akan ada.”
“menurutku tidak, masih banyak harapan bahkan dalam ketidak mungkinan sekalipun.”
“KAU TAK MENGERTI!!” teriaknya tiba-tiba.
Bibirku terkatup. Ku telusuri matanya yang setengah melotot, banyak rasa yang tak mampu ku baca.
“bahkan seharusnya kau tahu bahwa Tuhan muak dengan segala tingkah laku manusia yang tidak mengikuti aturan-Nya.” Ujarnya melunak.
Mata ini memandangnya sayu seakan mengerti apa yang tengah dipikirkan orang d depanku.
“namun, tidakkah kita bisa hidup lebih lama?” tanyaku hati-hati.
Ia mendesahkan napas panjang, “mungkin saja jika dulu kesombongan atas kekerdilan kita tak berada di ambang batas.”
Kata-kata itu terasa mengalun pelan dalam otak kecil yang tak terlalu ku gunakan walaupun Tuhan telah memberikannya secara utuh.
‘benar, kita terlalu sombong padahal otak yang diberikan pada kita saja tak mampu diolah secara optimal.’ Batinku lirih.
Retakan cahaya petir tiba-tiba menyadarkan jiwaku yang berkelana jauh bersamaan dengan suara yang menyapa lembut.
“seharusnya kau menarik selimut dan beristirahat kembali.”
Ku sunggingkan senyum simpul, “aku tak pernah beranjak dari ranjang kecuali kepentingan kebersihan badan kan? Seharusnya kau lebih tenang. Walaupun, sekarang anganku adalah merasakan tetes air hujan membasahi tiap jengkal tubuh ini.”
“aku tahu kau selalu melihat dan menelusuri bintik air hujan yang tertinggal di jendela. Namun, jika kau keluar dan mandi hujan, keadaanmu mungkin akan bertambah buruk.” Matanya sendu menatap langit dibalik kaca.
Aku termenung lama memandang rinai hujan yang berjatuhan lirih. Jemari kecil ini kembali mengusap embun di jendela.
“buruk tidaknya diri ini lunglai terkoyak, aku takkan pergi. Hati kecil yang memandangmu sayu akan tetap ada untuk sedikit menghapus kepiluan lewat bisik sembilu angin di ujung senja. Ingatlah, aku tetap disini.”

cerita kecil

Kutadahkan wajahku ke langit, berharap hujan turun membasuh jiwaku yang kering. Namun tak kunjung pula hujan itu turun.
“Kenapa tak pula kau siram aku hujan?”
Bulan bersinar semakin terang saat malam semakin memperlihatkan kekuatannya. Purnama entah keberapa kali yang kulihat selama umurku berjalan.
“Tak ada yang berubah, langit itu tetap gelap. Sedang bulan dan bintang itu tetap saja terang.”
Angin menyeruak membelah helai-helai rambutku yang tergerai. Seakan ia tak ingin diriku terdiam dibawah naungan langit dan lirikan bulan.
“Kau itu menyedihkan.”
Sebuah suara membuat kepalaku menoleh ke arah datangnya. Seseorang berdiri disana dengan wajah datar yang tak ku pahami.
“Biar apa kau bilang, inilah aku.” Ia mendekatkan diri dan duduk di sampingku.
“Kenapa pula kau terus pandangi langit itu? Ia takkan berubah meski kau memandangnya seumur hidupmu. Ia pun akan tetap tak terjangkau saat kau melompat.” Ia berbica dengan ekspresi yang benar-benar tak ku mengerti.
“Kau tahu, langit itu yang sejenak membuat manusia lupa bahwa ia punya masalah.”
Ia merapatkan tubuhnya untuk menahan angin yang semakin menusuk.
“Bagimu demikian, tak kau tahu banyak yang lebih beranggapan langit malam adalah objek terbaik untuk berkeluh, menangis, merasa letih dan putus asa.”
“Mungkin benar bagimu, tergantung analogimu..” kuhela napas panjang untuk memenuhi paru-paruku yang sesak.
“Tak perlu berlaku sok tegar. Bahuku adalah tempatmu menangis, telingaku tempatmu mengadu, dan diriku tempatmu berlari.”
Air mataku menggenang, ” berjanji pada langit untuk selalu tegar. Namun aku terlampau letih.”
Ia berdiam, matanya menerawang jauh. Entah apa yang dilihatnya.
“Kau tahu, manusia termasuk makhluk lemah. Itulah kenapa ia membutuhkan Tuhan. Cukupkan air matamu, air mata tak akan mengubah apapun.”
Ku benamkan wajahku pada bahunya, ia merengkuhku erat. Air mataku tak lagi mampu ku bendung lebih lama, terlalu berat.
“Aku merasa hina, terlalu kotor. Bahkan aku merasa jijik dengan diriku sendiri.” Tangisku pecah seketika.
“Lalu apa yang ada dalam otakmu saat kau berpikir seperti itu?” Rengkuhannya semakin erat mendekap jiwaku yang hampir hilang.
“Aku ingin mengakhirinya, saat benar ku rasa hidup ini tak berarti.”
Ia menghela napas berat, “apa sebenarnya keinginan yang pernah terbersit dalam benakmu?”
Kuangkat wajahku menghadapnya, “aku tak tahu. Aku takut hidup kalau tak berarti dan aku takut mati dengan sia-sia.” Air mataku terus turun dengan lincahnya.
“Lalu kenapa kau tak melakukannya? Bangkit kembali?” Tangannya lembut menghapus air di mata dan pipiku.
“Aku kesepian, aku sendirian, aku merasa kotor. Aku tak tahu lagi harus bagaimana menjalani hidup yang kurasa tak diinginkan makhluk Tuhan lainnya.”
“Kau tak sekotor itu.” Matanya menatapku lelah.
“Aku kotor, aku hina, aku gadis tak berarti yang banyak dijamah oleh birahi lelaki.” Jantungku berdetak berat seakan tak lagi ada daya yang membuatnya berbunyi.

13 Mei 2014

Saat Itulah Aku Tersenyum pada Mentari

langit cerah yang tak pernah terlupa

awal yang menyiratkan merah tomat pada bakpau itu

namun seiring waktu berjalan

awan mendung datang mendera

turunkan hujan basahi dirimu

petir datang menyambarmu keras

aku terpekur diam

seraya merintih perih yang kau rasa

aku berlari dalam gelapnya malam

dan kutuju kelamnya mendung

namun cahaya mentari ganti mendung

sembuhkan lukamu yang tergores petir

hangatnya sinarnya buatmu tersenyum dan berlari

berteriak ceria pada dunia

saat itulah aku tersenyum pada mentari

yang sembuhkanmu saat ku pergi

dan saat itulah semua buatku tersenyum dalam sepi

11 Nopember 2010

jawaban saat mid semester 2 jaman SMA

seorang pengamen berjalan mneghampiri satu persatu kendaraan sembari menyanyikan lagu kesukaannya. ku amati mereka hingga beberapa saat, hingga akhirnya aku tertarik untuk menghampirinya.

“Hei nak.. tak sekolahkah engkau?”

tanyaku basa-basi. ia hanya terdiam memikirkan suatu jawaban yang benar-benar tak terkira.

“bagaimana aku sekolah? sekolah itu ladang bisnis orang kaya,” jawabnya sambil tersenyum.

“Ladang?” tanyaku heran.

ia mengangguk dan meneruskan apa yang ingin ia katakan “Lihatlah sekolah itu, gedung mewah dan tinggi dengan biaya pembangunan yang selangit. belum lagi biaya seragam, buku dan tambahan yang lain, tentu sangat menguras kocek orang miskin. bukankah itu menunjukkan bahwa sekolah itu ladang bisnis sebagai areal komersil?”

aku terkejut sembari mencerna kata-katanya yang menurutku agak aneh seorang anak kecil berkomentar dengan kata-kata bernilai tinggi.

“namun, bukankah sekolah itu punya manfaat?” tanyaku masih tak mau kalah.

si anak menjawab dengan santai “Ah, manfaat hanyalah punya ijasah resmi, sebenarnya tanpa sekolahpun bisa punya ijasah. lihat orang dulu, banyak yang tak sekolah tapi sukses jadi kaya raya.  betul sekolah memberi ilmu pada kita, tapi kalau tak inisiatif untuk praktek, menerapkan, dan mneyalurkan ilmu teori itu.. apa guna?? buku berjuta lembar dibeli untuk dibaca tapi tak ada penerapan sama sekali. lantas untuk apa buku itu setelah lulus? tentu ujung-ujungnya sampai pada penjual buku bekas”.

aku mengangguk-angguk. sungguh kata-kata yang tak biasa.

sebelum ia pergi, ia mengucapkan sesuatu, “perlu kau ingat bung, ilmu ada dimana saja.” lalu ia berlalu pergi.

03 April 2012